macam-macam Tumpek yang di Bali

macam-macam Tumpek yang di Bali

Umat Hindu (khususnya di Bali) sering merayakan “Tumpek” yang jatuh pada hari Sabtu. Umat Hindu sendiri mengenal berbagai macam Tumpek dengan tujuan yang berbeda pula.

Tumpek berasal dari kata Metu dan mpek.

Metu yang artinya : Awal dan

Mpek yang artinya Berakhir Jadi Tumpek berarti merupakan Awal dan juga akhir.

Tumpek bisa diartinya cara mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta dengan jalan mensyukuri segala ciptaannya baik yang kita nikmati secara langsung maupun tidak langsung. Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakn gabungan dari Caka Surya Pramana dan Chandra Pramana serta Wuku yang kita kenal sebanyak tiga puluh wuku, selain wuku ada juga siklus lain yaitu Saptawara dan Pancawara. Sehingga antara Sapta wara terakhir Saniscara ketemu dengan Pancawara terakhir ( kliwon ) maka siklus inilah kemudian disebut tumpek.

Tumpek akan bertemu setiap akhir wuku Saniscara (Sapta wara ) dan akhir Pancawara Kliwon, inilah yang kemudian disebut denga awal dan akhir dalam istilah Hindu disebut Utpeti, Stiti dan Prelina, yang kemudian diambilah Utpeti dan Prelina.

BERMACAM MACAM TUMPEK

Tumpek Landep. Bersyukur kepada sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Hyang Pasupati pati atas ciptaanya. Hari raya tumpek landep jatuh setiap 210 hari tepatnya Saniscara/hari sabtu Kliwon wuku Landep. Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini kita selalu diingatkan untuk mengasah dan selalu menajamkan pikiran agar bisa memilah mana yang baik mana yang salah, di hari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris, tombak dan lan-lain. Dalam perkembangan zaman dan teknologi, perayaan hari raya Tumpek Landep tidak hanya mengupacarai benda-benda sakral/pusaka seperti keris dan peralatan persenjataan, melainkan juga benda-benda lain yang memiliki manfaat positif yang memberikan kemudahan dalam segala aktivitas dan kehidupan manusia seperti: mobil, sepeda, computer, laptop, mesin pabrik, dan benda-benda lainya.

Tumpek Wariga (Pengatag/Uduh/Bubuh). Bersyukur kepada Sang Hyang Widhi dalam manisfestasinya Sang Hyang Rare Angon. Hari raya yang siklusnya datang setiap 210 hari tepatnya Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Prosesi ini digelar sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Mahakuasa, dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara, karena umat telah diberkahi tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan.Mengingatkan Umat untuk Merawat Alam UMAT Hindu setiap enam bulan sekali selalu diingatkan betapa pentingnya melestarikan lingkungan (tumbuh-tumbuhan), melalui perayaan Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag atau sering juga disebut Tumpek Bubuh dan Tumpek Wariga.

Di Bali, perayaan Tumpek Wariga dilakukan dalam bentuk ritual yang menggunakan bebantenan dengan materi pokok berupa bubur. ini juga disertai harapan agar tanam-tanaman dapat menghasilkan dengan baik, sebab 25 hari lagi setelah Tumpek ini adalah perayaan hari raya Galungan. Buah-buahan yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan itu akan digunakan oleh umat untuk kepentingan merayakan Galungan.

Tumpek Kuningan. Menurut Babad Bali, hari raya Kuningan merupakan perayaan turunnya Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Sang Hyang Ista Dewata, Tuhan Yang Maha Esa, para dewa dan dewa pitara ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok, sehingga pada hari itu dibuat, nasi kuning sebagai lambang kemakmuran dan dihaturkan yadnya sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi.

berupa bahan-bahan sandang, panga pangan.

Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaikat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Hari raya kuningan jatuh pada hari sabtu (Saniscara) Keliwon Wuku Kuningan tepatnya 10 hari setelah hari raya Galungan.

Pada saat itu dipasang hiasan antara lain:

Ter atau panah (senjata), Panah itu sesungguhnya simbol ketajaman pikiran (manah) atau tingkat kualitas pikiran.
Kata kunci dalam Kuningan adalah suddha jnana, atau kesucian pikiran. Orang yang memiliki tingkat suddha jnana akan menemukan siddha (keberhasilan) yang disebut siddhi. Dengan demikian umat tak akan memiliki berantha jnana atau pikiran kotor alias diselimuti kebingungan. Hal itu didapat ketika kita bisa memenangkan musuh yang ada dalam tubuh yang disebut dasa indria yang pada intinya Hari Raya Kuningan ini memuja Tuhan dalam keheningan. Dalam keheningan itu diharapkan muncul div atau sinar suci dari Tuhan.
Endongan yang merupakan simbol perbekalan (logistik) dalam perang. Sementara dalam konteks keberagamaan, endongan itu bermakna bekal dalam mengarungi kehidupan seterusnya. Bekal itu tiada lain adalah karma atau hasil dari perbuatan, apakah ia berupa ?, subha karma (perbuatan baik), atau asubha karma (perbuatan buruk). Jadi, hanya karma diri sendirilah sebagai bekal utama untuk menuntun menuju perjalanan selanjutnya.
Adapun beberapa jenis sampian yang digunakan:

Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi.
Tamiang sebagai simbol penolak malabahaya.
Kolem/Pidpid sebagai simbol linggih hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.
Dan sehari sebelum hari raya kuningan disebut disebut hari Penampahan Kuningan yang jatuh pada hari Jumat Wage Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara ini mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan “Sapuhakena malaning jnyana” (lenyapkanlah kekotoran pikiran).

Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga Loka (Dewa mur mwah maring Swarga).

Tumpek Klurut (Lulut) . Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu, kliwon, wuku Krulut, setiap 6 bulan (210 hari) sekali. Kata “Lulut” dalam Bahasa Bali berarti jalinan/rangkaian. Pada hari ini kita memuja Tuhan dalam manistasinya sebagai Dewa Iswara. Kita bersyukur atas terciptanya suara-suara suci/tabuh.

Dalam masyarakat, ‘tetabuhan’ sangat identik dengan “Gong”, bukan dengan istilah ‘gamelan’. Oleh karena itu pada hari ini juga sering disebut dengan Odalan Gong. Tujuannya adalah agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan “taksu”. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu peras, pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong.

Ada yang unik dalam sesajen hari ini yaitu segala sesuatu yang dihaturkan seperti telur, buah-buahan, dll dihaturkan dalam bentuk yang utuh/tidak dibagi-bagi. Sebelum menghaturkan upacara ini dilakukan upacara Mabyekala atau Beakaon sebagai upacara penyucian atau menghilangkan segala mala.

Tumpek Uye (kandang). Hari Raya yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye yang datang setiap 210 hari. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan “Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa satoć. Artinya, hari itu hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan. Perayaan Tumpek Kandang bukanlah prosesi ritual untuk menyembah hewan. Tumpek Kandang merupakan perayaan keagamaan untuk memuja Siwa Pasupati, Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menciptakan satwa. tumpek Kandang pada intinya umat memuja Sang Hyang Siwa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai rajanya semua makhluk hindu.

Tetapi secara filsafati perayaan Tumpek Uye itu mengandung makna bahwa umat hendaknya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaanNya. Dikatakannya, dalam Sarasamuscaya ada disebutkan “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” , yang artinya jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Itu artinya, umat mesti mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk. Khusus pada perayaan Tumpek Kandang, umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaannya diberkati kerahayuan. Demikian pula ternak yang lain seperti babi, kambing, ayam, itik. Bahkan, babi bagi masyarakat Hindu di Bali sering dijadikan semacam tabungan atau celengan. Ketika umat menyelenggarakan hajatan, babi tersebut dipotong atau jika kepepet uang, ternak yang sering disebut ubuhan tatakan banyu tersebut bisa dijual.

Tumpek Wayang. Hari Raya yang jatuh setiap saniscara kliwon wuku wayang tepatnya setiap 210 hari/6 bulan sekali.Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan. Tumpek wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya.

Orang yang menjadi mediator inilah disebut seorang Dalang atau Samirana, Hyang Iswara juga memberikan kekuatan seorang Dalang sehingga mampu membangkitkan cita rasa seni dan daya tarik yang mampu memberikan sugesti kepada orang lain yaitu para penontonnya. Kekuatan inilah yang disebut dengan taksu maupun raganya, karena didalam pementasan wayang kulit, seorang Dalang mampu menyampaikan cerita yang penuh dengan filsafat humor, kritik, saran, serta realita kehidupan se hari-hari sehingga para penonton membius alam pikirannya sehingga muncullah kekuatan sugesti dari diri masing-masing. Oleh karena itu kehidupan umat manusia di dunia sesungguhnya tidak hanya memelihara pisik semata, namun perlu ke seimbangan antara pisik dan mental spiritual yang mana banyak tercermin di dalam pelaksanaan atau perayaan Tumpek Wayang bagi umat Hindhu yang dirayakan setiap enam bulan.

Makna dari pada Tumpek Wayang, sebagaimana kita ketahui kehidupan di dunia selalu diliputi oleh dua kekuatan yang disebut Ruwa Bineda, yang sudah barang tentu ada pada sisi ke hidupan manusia . Dengan bercermin dari tatwa, filsafat agama mampu membawa kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat. Karena dari ajaran atau filsafat agama mampu akan memberikan pencerahan kepada pikiran yang nantinya mampu pula menciptakan moralitas seseorang menjadi lebih baik dari segi aktifitas agama se hari hari kita mendapatkan air cuci ke hidupan melalui tirta pengelukatan yang berfungsi untuk meruak atau melebur dosa di dalam tubuh manusia, maka dari itu seorang Dalanglah yang mendapat anugerah untuk melukat diri manusia baik alam pikirannya maupun raganya. Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai

Sumber : Parisada Hindu Dharma Indonesia, dan berbagai sumber lainya.