Japamala (Genitri – Tasbih) pengertian , dan tata cara Penjapaan

postingan ini diambil dari buku karya I Nyoman Kurniawan lahir pada tanggal 29 January 1976. Mendapatkan garis spiritualnya dari kakeknya, Pan Siki, seorang balian usadha dari Br. Tegallinggah Kota Denpasar.

yang berjudul MANTRA YOGA-Rumah Dharma-Hindu Indonesia

Pengertian JAPAMALA

JAPAMALA merupakan salah satu bagian dari Mantra Yoga,

  • Mantra berasal dari bahasa Sanskerta yaitu MAN yang memiliki arti PIKIRAN dan TRA yang artinya PEMBEBASAN. Jadi Mantra adalah kegiatan membebaskan pikiran (dalam bahasa Indonesia mantra disebut syair atau pujian kepada Tuhan/ucapan suci)
  • Yoga berasal dari suku kata yuj, dalam bahasa Sansekerta berarti “menghubungkan” atau “mempersatukan“

 

Jadi Mantra Yoga adalah Upaya pembebasan atatu pemurnian pikiran, perkataan, dan perbuatan melalui disiplin atau rutinitas yang berulang

 

Mantra Yoga dibagi menjadi 3 atau 3 upaya penyangga Mantra Yoga

  • Mantra: Ucapan suci
  • Japa Mala: Perbuatan suci
  • Dhayanawidhi: Pikiran suci

 

Di postingan kali ini tidak akan membahas secara penuh apa itu Mntra Yoga dan bagianya, tapi kita akan focus membahas JAPAMALA (GENITRI) atau yang sering disebut dalam bahasa Indonesia “TASBIH”.

 

JAPAMALA terdiri dari dua kata induk Bahasa Sanskrit yaitu : JAPA dan MALA. Japa adalah pengulangan mantra suci selama beberapa kali. Mala adalah butir-butir yang dirangkai dengan benang kapas. Jadi Mala yang digunakan untuk ber-Japa disebut JAPAMALA. Perkataan Japa juga terdiri dari dua kata pokok yaitu JA artinya menghancurkan siklus kelahiran dan kematian (samsara/purnabhawa), dan PA artinya menghancurkan segala dosa.

 

Butir-butir mala sebanyak 108 biji. Mengapa 108 untuk lebih jelas bisa klik disini

 

Bahan biji-biji Mala ada bermacam-macam, diurutkan mulai dari yang paling tinggi nilai hasiat dan manfaatnya :

  • Simpul rumput kusa (ilalang), Tulasi, dan Rudraksa (cendana).
  • Emas,
  • Biji bunga teratai,
  • Kristal dan Mutiara,
  • Permata,
  • Batu mulia (akik),
  • Kulit kerang,
  • Biji pohon Putrajiva.

 

Jenis biji-biji untuk pemujaan khusus. JAPAMALA

  • Gading gajah, untuk pemujaan Ganesa,
  • Pohon Tulasi untuk pemujaan Visnu, dari
  • Rudraksa untuk pemujaan Devi Kali dan Siva,
  • Simpul rumput Kusa untuk menghancurkan segala dosa,
  • Biji pohon Purtajiva untuk mohon memperoleh anak/keturunan,
  • Kristal untuk memenuhi semua keinginan,
  • Batu karang untuk mohon kekayaan.

Yang perlu diperhatikan agar tidak mencampur berbagai biji-bijian dalam satu Japamala.

 

Benang yang digunakan merangkai biji-biji adalah benang dari kapas karena memenuhi empat kegunaan yaitu menuju : Dharma, Arta, Kama, dan Moksa.

Manfaat warna benang :

  • Putih memberi kedamaian,
  • Merah menarik pengaruh,
  • Kuning memberi perlindungan, dan
  • Hitam memberi kekayaan duniawi dan spiritual.

 

Jadi keempat warna benang kapas itu dapat dipilin disatukan untuk merangkai biji-biji menjadi Japamala.

Jika hanya menggunakan satu warna,

  • Putih untuk para Pendeta,
  • Kuning untuk prajurit,
  • Hitam untuk pengusaha, dan
  • Merah untuk semua profesi.

 

Bentuk Japamala hendaknya seperti ekor sapi atau ular, artinya luwes, tidak kaku. Untuk itu maka jarak antar biji agar sedikit renggang.

 

Mensucikan Japamala dengan menggunakan Pancagavya, yaitu campuran : susu, sari susu, madu, gula dan air. Agar tidak lengket, porsi air dapat lebih dibanyakkan. Puja Mantra setelah mencuci Japamala :

 

 

Tata cara melalukan JAPAMALA

Japa mala dipegang dengan tangan kanan dan tangan kanan yang memegang japa mala ini ditempelkan di dada [titik ulu hati], atau posisi chakra anahata [chakra jantung]. Peganglah japa-mala dengan lembut dan rasa hormat. Ada dua cara untuk memegang japa-mala. Yaitu :

Cara pertama, japa-mala diletakkan terjuntai pada jari tengah sampai jari kelingking dan ujung ibu jari memegang biji japa-mala.

cara memegang japamala 1

Cara kedua, yaitu biji japa-mala dipegang dengan ujung-ujung ibu jari dan jari tengah, dengan disangga oleh ujung jari manis [ini memerlukan latihan].

cara memegang japamala2

Jari telunjuk harus mengacung keluar, karena jari telunjuk dalam penjapaan mantra adalah simbol ahamkara [ke-aku-an, ego], hal yang paling penting untuk dilenyapkan dalam tujuan mencapai kemurnian kesadaran, sehingga harus dilepaskan ketika melakukan penjapaan mantra.

Cara menggunakannya

Cara menggunakannya dalam penjapaan mantra adalah ujung ibu jari menarik biji japa-mala satu persatu, dimulai dari biji pertama dalam lingkaran untaian setelah biji meru. Satu biji melambangkan satu kali penjapaan mantra. Artinya setiap satu kali penjapaan mantra, ibu jari menarik satu biji menggantikan posisi biji sebelumnya.

  1. Saat melakukan penjapaan mantra, japa-mala tidak boleh menyentuh tanah.
  2. Ujung japa-mala yang menjuntai di pangkuan kita, hendaknya kita sangga dengan telapak tangan kiri.
  3. Setelah menyelesaikan satu putaran penuh dari japa-mala atau 108 kali japa, kalau akan dilanjutkan dengan putaran berikutnya, penghitungan japa-mala tidak boleh melangkahi meru atau biji ke-109, sehingga kita harus memutar japa-mala 180 derajat.

Artinya ketika penjapaan satu putaran selesai, maka jalur penghitungan-nya harus diputar ke arah sebaliknya, yang dimulai dari biji terakhir yang dihitung pada putaran sebelumnya. Ini karena dalam penjapaan, biji meru harus dianggap sebagai satguru pembimbing, yang mana seorang satguru tentunya harus dihormati dan tidak boleh dilangkahi dalam penghitungan japa-mala.

Perlu diketahui bahwa tujuan memegang japa mala ditempelkan di dada [titik ulu hati], atau posisi chakra anahata [chakra jantung], adalah agar segala bentuk energi suci hasil dari penjapaan mantra ini langsung terserap masuk ke dalam diri kita melalui chakra anahata, kemudian menyebar dan menyatu kepada seluruh keberadaan kita

PemakaianJapaMalaDalam Keseharian

Japa-mala sangat baik untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari diluar saat kita menjapakan mantra. Karena energi suci dari penjapaan mantra yang kita lakukan akan tersimpan di dalam japa-mala, sehingga memberikan kekuatan perlindungan kepada si pemakai. Dengan catatan terdapat beberapa aturan cara menggunakan japa-mala dalam kehidupan sehari-hari, dengan tujuan menjaga kekuatan energi suci yang tersimpan di dalam japa-mala, yaitu :

  1. Japa-mala tidak boleh dipakai dan harus dilepas disaat buang air besar.
  2. Japa-mala tidak boleh dipakai dan harus dilepas disaat datang ke rumah duka menjenguk orang meninggal. Termasuk ketika datang ke acara pemakaman, kremasi dan ke kuburan.
  3. Japa-mala tidak boleh dipakai dan harus dilepas disaat melakukan hubungan seksual dengan pasangan [suami atau istri] atau disaat melakukan aktifitas seksual lainnya.
  4. Japa-mala tidak boleh dipakai dan harus dilepas disaat wanita sedang menstruasi. Dengan pengecualian untuk japa-mala dari biji rudraksha [genitri] atau dari batu ambar [fosil batu dari getah atau damar pohon purba, bentuknya mirip batu mulia] yang justru sebaliknya. Japa-mala dari biji rudraksha atau dari batu ambar sangat baik dikenakan disaat wanita sedang menstruasi. Pertama karena kekuatan energi suci yang tersimpan di dalam japa-mala tidak akan terpengaruh. Kedua karena salah satu fungsi japa-mala dari biji rudraksha atau dari batu ambar adalah membantu kesehatan wanita selama masa-masa menstruasi.
  5. Kita harus menaruh rasa hormat kepada japa-mala yang kita pakai. Ketika kita melepasnya, jangan diletakkan sembarangan atau disimpan di tempat yang kotor dan tidak layak. Walaupun japa-mala hanyalah sebuah benda, tapi japa-mala tersebut adalah alat bantu kita untuk terhubung dengan Ista Dewata, membantu kita untuk mencapai peningkatan kesadaran dan didalamnya terserap energi suci mantra yang kita japakan. Sehingga harus kita jaga dan letakkan secara sepantasnya.

Selain itu japa-mala hendaknya tidak dipakai dan harus dilepas saat menjenguk bayi yang baru lahir. Karena bayi yang baru lahir sangat peka atau sensitif dengan berbagai energi apapun. Energi yang kuat dari japa mala, dapat menyebabkan bayi baru lahir merasa terusik kenyamanannya. Tapi kalau bayinya sudah berumur sekitar lebih dari 1 bulan, maka hal ini tidak terlalu menjadi masalah.

Dan khusus untuk japa-mala dari biji rudraksha, harus dilepaskan saat mandi dengan sabun atau shampo. Karena busa sabun atau shampo dapat mengeringkan minyak-minyak alami yang terdapat dalam bij rudraksha.

 

 

PEDOMAN UMUM

Berikut ini adalah beberapa pedoman umum mengenai hal-hal yang perlu diketahui sebelum kita mulai melakukan Mantra Yoga.

Lokasi

Yang paling disarankan adalah kita melakukan penjapaan mantra pada titik- titik suci di rumah kita, seperti di kamar suci, di sanggah atau di depan plangkiran. Penjapaan mantra juga sangat baik dilakukan di tempat-tempat yang memiliki getaran energi yang baik untuk penjapaan mantra, seperti di parahyangan- parahyangan suci.

Tapi kalau karena sebab-sebab tertentu tidak memungkinkan bagi kita melakukan penjapaan mantra di rumah atau di parahyangan suci, seperti misalnya karena kita sangat sibuk dengan aktifitas kerja, kita juga dapat melakukannya di tempat yang netral seperti di salah satu ruangan kantor tempat kita bekerja, dsb-nya. Lakukanlah penjapaan mantra tersebut dengan menghadap ke arah timur atau utara.

Waktu.

Penjapaan mantra sangat baik dilakukan kapan saja. Tapi secara tradisi ada beberapa waktu yang dianggap sebagai titik waktu terbaik untuk memulai melakukan penjapaan mantra, yaitu saat :

  1. Brahmamuhurta, yaitu dini hari dari jam 03.00 pagi sampai dengan menjelang matahari terbit.
  2. Tengah malam [jam 12.00 malam].
  3. Malam hari menjelang kita tidur. Ini bebas jam berapa saja. Yang penting penjapaan mantra dilakukan tepat sebelum kita pergi tidur.

Selain titik waktu terbaik tersebut, juga ada titik waktu yang disarankan untuk melakukan penjapaan mantra, yaitu saat :

  1. Sandhikala, yaitu sore hari menjelang matahari terbenam.
  2. 
Tengah hari [jam 12.00 siang] saat matahari tepat berada di atas kepala.

Dengan catatan bahwa titik waktu ini bukanlah sebuah keharusan. Yang terbaik adalah diri kita sendirilah yang menentukan kapan akan melakukan penjapaan mantra,yang disesuaikan dengan kondisi keadaan kita masing-masing.

Seandainya tempat, kondisi dan keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan penjapaan mantra pada titik waktu tersebut, jangan pernah ini dijadikan beban atau halangan. Kita harus tetap melakukan penjapaan mantra tanpa perlu memaksakan diri mencari titik waktu yang dianggap baik. Yang paling penting adalah kita tekun dan rutin melakukan penjapaan mantra setiap hari.

 

Hari-hari khusus.

Pada putaran waktu hari-hari khusus seperti pada saat rahina Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, atau pada hari-hari suci Agama Hindu, sangat disarankan para sadhaka melakukan Nitya Japa [japa harian] dengan kategori Madhyama Puja.

Pada hari-hari khusus tersebut, sadhaka sangat disarankan melakukan penjapaan mantra minimal sebanyak 10 [sepuluh] kali putaran japa mala [1.080 kali penjapaan mantra] dalam satu hari tersebut. Penjapaan mantra ini tidak harus dilakukan terus bersambung tanpa jeda, tapi boleh dilakukan secara bertahap. Yang penting jumlahnya dalam satu hari adalah minimal sebanyak 10 [sepuluh] kali putaran japa-mala. Terserah bagaimanapun cara kita mengaturnya sendiri.

 

 

Masa-Masa Cuntaka [Kesebelan].

Pertanyaan umum yang paling sering diajukan kaum wanita terkait Mantra Yoga adalah apakah boleh melakukan penjapaan mantra ketika sedang menstruasi [datang bulan]. Pertanyaan umum lain yang sejenis, bagaimana kalau kondisi kita sedang kesebelan karena ada keluarga meninggal, apakah boleh melakukan penjapaan mantra. Jawabnya tentu saja boleh dan tidak menjadi halangan.

Di dalam Mantra Yoga penjapaan mantra justru harus terus dilakukan. Salah satu hal yang penting dalam Mantra Yoga adalah penjapaan mantra terus dilakukan setiap hari tidak pernah putus, walaupun hanya sanggup melakukan minimal penjapaan mantra 1 [satu] putaran japa-mala saja.

Dengan catatan, asalkan pada masa-masa cuntaka tersebut melakukan penjapaan mantra dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut ini

Masa Cuntaka Karena Menstruasi.

  • Penjapaan mantra jangan dilakukan pada titik-titik suci di rumah kita, seperti di kamar suci, di sanggah atau di depan plangkiran. Tapi lakukanlah penjapaan mantra tersebut di tempat-tempat yang netral di rumah seperti misalnya di ruang tamu, teras rumah, dsb-nya. Lakukanlah penjapaan mantra tersebut dengan menghadap ke arah timur atau utara.
  • Japa-mala yang digunakan untuk menjapakan mantra harus dari biji rudraksha atau dari batu ambar [getah atau damar pohon purba yang sudah menjadi fosil batu, bentuknya agak mirip batu mulia]. Japa-mala dari biji rudraksha atau dari batu ambar justru sangat disarankan digunakan selama masa menstruasi. Pertama karena kekuatan energi suci yang tersimpan di dalam japa-mala tidak akan terpengaruh. Kedua karena menurut literatur-literatur pengobatan Hindu kuno, penggunaan japa-mala dari biji rudraksha atau dari batu ambar baik untuk kelancaran dan kesehatan kaum wanita selama masa-masa menstruasi.

Masa Cuntaka Karena Ada Keluarga Dekat Meninggal.

  • Penjapaan mantra jangan dilakukan di rumah duka. Kecuali kita ingin mempersembahkan karma baik dari penjapaan mantra kita kepada mendiang yang meninggal, maka penjapaan mantra tersebut boleh dilakukan di depan peti jenazah. Dan penjapaan mantra tersebut jangan dilakukan dengan menggunakan japa-mala, tapi gunakanlah mudra Ista Dewata yang dipuja. Sebab salah satu pantangan dari pemakaian japa-mala adalah japa-mala tidak boleh dipakai dan harus dilepas disaat datang ke rumah duka menjenguk orang meninggal. Termasuk ketika datang ke acara pemakaman, kremasi dan ke kuburan.
  • Penjapaan mantra dilakukan di rumah lain selain rumah duka. Dan jangan dilakukan pada titik-titik suci di rumah tersebut, seperti di kamar suci, di sanggah atau di depan plangkiran. Tapi lakukanlah penjapaan mantra tersebut di tempat- tempat yang netral di rumah seperti misalnya di ruang tamu, teras rumah, dsb- nya. Penjapaan mantra ini boleh dengan menggunakan japa-mala. Lakukanlah penjapaan mantra tersebut dengan menghadap ke arah timur atau utara.

 

 

 

SEBELUM MELAKSANAKAN MANTRA YOGA

Berikut ini adalah beberapa saran-saran dasar mengenai persiapan pribadi sebelum kita mulai melakukan Mantra Yoga. Sebagian sifatnya adalah opsional [pilihan pribadi] dan tidak wajib untuk dilakukan.

  1. Mandi Bersih.
  2. Mandi Bersih.

Sebelum kita mulai melakukan Mantra Yoga, mandilah dengan bersih. Kalau ada, gunakanlah sabun dan shampo supaya badan kita segar dan aroma badan kita harum. Dan selama mandi itu kita ucapkan berulang-ulang mantra : “Om sarwa sarira parisudhamam swaha”.

Ini sifatnya adalah opsional [pilihan pribadi] dan tidak wajib untuk dilakukan. Kalau kita tidak mandi bersih sebelum menjapa mantra, tidak ada masalah dan kekuatan penjapaan mantra tidak akan menjadi berkurang.

Tapi cukup penting untuk dilakukan bila kita menjapakan mantra atau melakukan puja di tempat-tempat yang sakral, tenget, atau di tempat yang banyak ada mahluk-mahluk alam bawahnya, atau kalau kita mengalami gangguan ilmu hitam. Mandi bersih ini tujuannya adalah untuk menghindari kehadiran

mahluk-mahluk alam bawah, terutama bagi sadhaka yang tidak punya mantra- mantra perlindungan atau tidak bisa nyengker [membuat benteng perlindungan niskala]. Karena getaran kekuatan suci mantra, ketika sadhaka menjapakan mantra sangat mungkin akan mudah terlihat oleh mahluk-mahluk alam bawah. Bisa jadi mahluk-mahluk alam bawah ini akan tertarik mendatangi sang sadhaka, karena mereka sangat merindukan kekuatan suci untuk melepaskan mereka dari belenggu kesengsaraan. Sehingga hal ini dapat mengganggu atau merintangi jalannya penjapaan mantra.

Sebaliknya kalau kita sudah mandi dengan menggunakan mantra sehingga badan kita bersih, harum dan segar, maka hawa-hawa yang kurang bagus dalam tubuh kita akan banyak berkurang. Sehingga saat menjapakan mantra kita tidak terlihat oleh mahluk-mahluk alam bawah, malah sebaliknya mudah mengundang kehadiran mahluk-mahluk suci.

  1. Menutup Diri dari Dunia Luar.
  2. Menutup Diri dari Dunia Luar.

Sebelum melakukan penjapaan mantra, lepaskan kacamata dan jam tangan, serta matikan handphone. Ini sifatnya adalah opsional [pilihan pribadi] dan tidak wajib untuk dilakukan. Tapi alangkah baiknya kalau kita melakukan upaya memastikan bahwa kita akan terhindar dari hal-hal luar yang mungkin mengganggu penjapaan mantra kita.

  1. Meng haturka n Per semba han.
  2. Menghaturkan Persembahan.

Menghaturkan persembahan sebelum melakukan penjapaan mantra adalah penting untuk dilakukan. Sangat disarankan seandainya tempat, kondisi dan keadaan memungkinkan.

Tujuan menghaturkan persembahan terkait dengan adanya faktor-faktor rahasia dari persembahan, yaitu persembahan merupakan perwujudan sekala- niskala dari rasa welas asih dan rasa terimakasih kita. Apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup ini kita kembalikan lagi dalam bentuk persembahan. Yang pada akhirnya, sesuai dengan dinamika hukum alam semesta, apapun yang kita berikan semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Selain itu dengan memberikan persembahan kita menghormati kekuatan mahasuci Ista Dewata yang akan kita akses melalui mantra.

Tapi seandainya tempat, kondisi dan keadaan tidak memungkinkan untuk menghaturkan persembahan, jangan ini dijadikan beban atau halangan. Kita tetap laksanakan sadhana penjapaan mantra tanpa menghaturkan persembahan.

SIKAP DALAM MANTRA YOGA

Ada beberapa sikap dasar yang perlu diperhatikan sebelum kita mulai melakukan Mantra Yoga.

  1. Asana [Sika p Ba dan].
  2. Asana [Sikap Badan].

Badan

Berlatihlah sikap asana yang mantap untuk japa mantra, seperti padmasana, ardha-padmasana, siddhasanadan sukhasana. Kita pilih yang paling sesuai untuk diri kita sendiri dan beberapa dari sikap asana ini memerlukan latihan agar kita bisa nyaman menggunakannya.

Keadaan tulang punggung selayaknya tegak lurus. Jangan lengkung atau membungkuk. Posisi tegaknya punggung ini berguna untuk melapangkan rongga

dada yang bertujuan untuk memaksimalkan nafas, sehingga distribusi dari prana vayu [aliran energi] di dalam badan terjadi secara menyeluruh dan sistematis.

 

Duduk Tenang.

Duduklah beberapa saat dengan tenang sebelum memulai penjapaan mantra. Perhatikan sikap tubuh kita, pastikan kita telah melakukan asana dengan baik. Lalu amati jalan keluar-masuk nafas kita untuk beberapa waktu, sampai telah terasa alami dan teratur.

 

 

 

MELAKSANAKAN SADHANA MANTRA YOGA

Ada beberapa mantra-mantra pembukaan yang wajib dilaksanakan sebelum kita mulai melakukan sadhana Mantra Yoga.

  1. Memohon Restu Dari Semua Ista Dewata.
  2. Memohon Restu Dari Semua Ista Dewata.

Sebelum memulai sadhana hendaknya kita memohon restu kepada seluruh Ista Dewata, agar sadhana kita berjalan lancar dan berhasil.

Tampilkan mudra puja mencakupkan tangan di kening. Kedua ujung ibu jari bertemu di chakra ajna [chakra mata ketiga] dan jari-jari lainnya mengarah keatas. Kemudian kita ucapkan mantra :
Om awignam astu namo siddham

Om siddhirastu tat astu astu swaha

 

Penyucian Diri.

Memohon restu kepada seluruh Ista Dewata

Kita lanjutkan dengan melakukan sadhana penyucian diri. Dasarnya adalah mengikuti hukum alam semesta, dimana kesucian akan mudah terhubung dengan kesucian. Dengan melakukan sadhana penyucian diri, kondisi kita akan menjadi suci dan kita akan lebih mudah terhubung dengan kesucian.

  1. Penyucian posisi asana.
  2. Penyucian posisi asana.

Tampilkan mudra amusti-karana [ujung ibu jari dan telunjuk tangan kanan serta ujung ibu jari tangan kiri bertemu mengarah keatas, jari-jari lain digenggam sebagai dasar], visualkan kehadiran Dewa Shiwa di hadapan kita, kemudian mengucapkan mantra :

Om prasada stithi sarira Shiwa suci nirmala ya namah swaha

Penyucian prana.

Mudra amusti-karana

Kita masih tetap menampilkan mudra amusti-karana.

Lakukan puraka atau tarik nafas dalam-dalam dengan perlahan, visualkan udara nafas yang kita tarik masuk berwujud cahaya suci Dewa Brahma berwarna merah marun, sambil mengucapkan mantra dalam hati :
Ong Ang namah

Lakukan kumbhaka atau menahan nafas sebentar di dalam dada, visualkan udara nafas yang kita tahan berwujud cahaya suci Dewa Wishnu berwarna hitam, sambil mengucapkan mantra dalam hati :
Ong Ung namah

Lakukan recaka atau menghembuskan nafas dengan perlahan, visualkan udara nafas yang kita hembuskan berwujud cahaya suci Dewa Shiwa berwarna putih, sambil mengucapkan mantra dalam hati :
Ong Mang namah

 

 

Penyucian badan fisik.

Tampilkan mudra omkara-suddhi pertama, kedua telapak tangan terbuka keatas ditumpuk dengan tangan kanan di atas dan kedua ujung ibu jari bertemu. Visualkan diatas telapak tangan kita ada aksara suci omkara memancarkan cahaya suci berwarna putih sangat terang yang terserap masuk ke tengah chakra anahata atau chakra jantung [titik di tengah dada pada ulu hati]. Kemudian cahaya suci tersebut tersebar ke seluruh badan kita yang memurnikan badan badan fisik kita. Membuat badan fisik kita bercahaya putih terang dan termurnikan. Visualkan ini sambil mengucapkan mantra :

Omkara sudhamam swaha

Ganti posisi mudra menjadi tangan kiri di atas. Visualkan aksara suci omkara diatas telapak tangan kita memancarkan cahaya suci berwarna putih sangat terang yang lebih terang lagi. Terserap masuk ke tengah chakra anahata atau chakra jantung [titik di tengah dada pada ulu hati]. Cahaya suci tersebut tersebar ke seluruh badan kita yang membuat badan fisik kita bercahaya putih terang lebih terang lagi dan lebih termurnikan lagi. Visualkan ini sambil mengucapkan mantra : Omkara ati sudhamam swaha

 

 

Penyucian badan-badan halus dan atma.

Tampilkan kembali mudra amusti-karana, visualkan kehadiran Dewa Shiwa di hadapan kita. Dari chakra anahata atau chakra jantung [titik di tengah dada pada ulu hati] Beliau memancar cahaya suci berwarna putih terang yang masuk ke dalam chakra anahata kita. Cahaya suci ini masuk terserap ke dalam diri kita dan memurnikan badan-badan halus kita, sambil mengucapkan mantra :

Om hram hrim sah Parama-Shiwa raditya ya namah swaha

Masih tetap menampilkan mudra amusti-karana, visualkan atma kita termurnikan memancarkan cahaya suci berwarna putih, sambil mengucapkan mantra :
Om atma tattwatma suddhamam swaha

Masih dengan tetap menampilkan mudra amusti-karana, visualkan seluruh eksistensi [keberadaan] kita termurnikan sempurna memancarkan cahaya suci berwarna putih, sambil mengucapkan mantra :
Om ksama sampurna ya namah swaha

Om sriyam bhawantu, Om sukham bhawantu, Om purnam bhawantu

 

 

Mengundang Kehadiran Ista Dewata.

Ambil japa-mala yang kita kalungkan di leher. Tampilkan mudra namaskara [mencakupkan tangan di dada] sambil memegang japa mala. Duduk tenang dalamposisi meditasi, pejamkan mata dan kita fokus melakukan dhyanawidhi atau konsentrasi melakukan visualisasi atau membayangkan wujud Ista Dewata.

Visualkan atau bayangkan wujud Ista Dewata ada di langit biru dan awan- awan putih yang indah di hadapan kita. Visualkan Ista Dewata tersebut hidup dan berpendar cahaya. Atau boleh juga melakukan visualisasi wujud Ista Dewata tersebut dengan fokus pada titik tengahing lelata [trikuti], yaitu titik tengah diantara kedua alis. Visualkan Ista Dewata tersebut hidup dan berpendar cahaya.

Sebagaimana tertulis di dalam kitab-kitab suci Hindu bahwa siapapun yang memikirkan Ista Dewata dengan kuat, akan mengundang kehadiran Beliau. Rasakan dengan hati dan dengan sraddha [keyakinan] bahwa Beliau hadir di hadapan kita.

 

 

Permohonan.

Setelah visual kita terasa cukup jelas dan kehadiran Beliau bisa kita rasakan dengan hati, kita tampilkan mudra puja mencakupkan tangan di kening dan sampaikan permohonan kita. Permohonan ini kita sampaikan dengan kata-kata kita sendiri sambil tetap terus melakukan visualisasi atau membayangkan wujud Ista Dewata.

Permohonan paling mulia adalah mempersembahkan karma baik dari penjapaan mantra kita, karena ini merupakan tindakan welas asih dan tidak mementingkan diri sendiri. Kita bisa mempersembahkan karma baik dari penjapaan mantra ini untuk orang-orang dekat kita, seperti orang tua, anak-anak, atau pasangan hidup kita [suami atau istri]. Ataupun bisa kepada siapa saja atau mahluk manapun yang kita inginkan. Pada intinya kita mempersembahkan karma baik dari penjapaan mantra kita untuk kebahagiaan orang lain atau mahluk lain. Ini bertujuan untuk menumbuhkan dan membangun sifat-sifat welas asih dan tidak mementingkan diri sendiri sebelum kita menjapakan mantra Ista Dewata.

 

 

Menjapakan Mantra.

Pegang dan gunakanlah japa-mala dengan cara sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya.

Lakukan dhyanawidhi atau konsentrasi melakukan visualisasi atau membayangkan wujud Ista Dewata. Kemudian penjapaan mantra kita mulai. Misalnya [contoh] memvisualkan Dewa Shiva sambil terus-menerus menjapakan mantra “Om Namah Shivaya”.

Japakan mantra Ista Dewata dengan ucapan jelas dan tanpa kesalahan pengucapan mantra. Jangan menjapakan mantra terlalu lambat atau terlalu cepat, usahakan iramanya teratur sesuai dengan irama nafas.

Dan ingatlah setelah menyelesaikan satu putaran penuh dari japa-mala [108 kali japa], kalau kita akan melanjutkan dengan putaran berikutnya tidak boleh melangkahi biji meru atau biji ke-109. Kita harus memutar japa-mala 180 derajat. Artinya ketika penjapaan mantra sebanyak satu putaran japa mala selesai, maka arah penghitungan-nya harus dibalik kembali ke arah sebaliknya. Yang dimulai dari biji terakhir yang dihitung pada putaran sebelumnya.

  • Ista Dew ata Memur nikan Sa dhaka .
  • Ista Dewata Memurnikan Sadhaka.

Setelah selesai melakukan penjapaan mantra, tetaplah memejamkan mata, tetap memegang japa-mala dan memvisualisasikan kehadiran Ista Dewata. Tekuk ujung lidah kita menyentuh langit-langit mulut. Tujuannya adalah untuk menyatukan energi bumi [pertiwi] dan langit [akasha] di dalam diri kita.

Diamlah beberapa saat dengan tenang sambil mengatur nafas dengan alami dan teratur. Visualisasikan Ista Dewata yang kita puja, dengan hati penuh rasa hormat dan terimakasih. Rasakan dengan sepenuh hati kehadiran Beliau.

Kemudian kita lakukan 4 [empat] visualisasi Ista Dewata memurnikan sadhaka, yaitu :

  1. Visualkan seluruh tubuh Ista Dewata memancarkan cahaya suci berwarna putih sangat terang yang menyebar ke semua arah. Cahaya suci tersebut memancar masuk terserap ke dalam diri kita. Yang memurnikan, menyembuhkan dan menanamkan benih-benih kesadaran di dalam diri kita.
  2. Visualkan dari chakra ajna atau chakra mata ketiga [titik di tengah alis] Ista Dewata memancar cahaya suci berwarna putih berkilauan yang masuk ke dalam chakra ajna kita. Cahaya suci ini masuk terserap ke dalam diri kita dan berpendar memenuhi pusat energi di chakra ajna kita.

Cahaya suci ini kemudian masuk terserap ke dalam diri kita dan memenuhi seluruh tubuh kita. Visualkan cahaya suci ini membersihkan semua karma buruk dari perbuatan-perbuatan kita yang melanggar dharma. Visualkan cahaya suci Beliau ini memberi kita karunia tubuh suci Ista Dewata.

  1. Visualkan dari chakra visuddha atau chakra tenggorokan Beliau memancar cahaya suci terang berwarna merah marun yang masuk ke dalam chakra visuddha kita. Cahaya suci ini masuk terserap ke dalam diri kita dan berpendar memenuhi pusat energi di chakra visuddha kita.

Visualkan cahaya suci ini membersihkan semua karma buruk dari perkataan- perkataan kita yang melanggar dharma. Visualkan cahaya suci Beliau ini memberi kita karunia ucapan suci Ista Dewata.

  1. Visualkan dari chakra anahata atau chakra jantung [titik di tengah dada pada ulu hati] Beliau memancar cahaya suci berwarna biru gemerlapan yang masuk ke dalam chakra anahata kita. Cahaya suci ini masuk terserap ke dalam diri kita dan berpendar memenuhi pusat energi di chakra anahata kita.

Visualkan cahaya suci ini membersihkan semua karma buruk dari pikiran-pikiran kita yang melanggar dharma. Visualkan cahaya suci Beliau ini memberi kita karunia pikiran suci Ista Dewata.

Kemudian setelah semua proses diatas tersebut, rasakan dengan hati bahwa seluruh keberadaan kita sudah dimurnikan. Kita merasakan hati kita semakin dekat dengan Beliau. Rasakan seluruh keberadaan kita semakin dekat dengan kualitas kesucian Beliau.

 

Malinggihkan Ista Dewata Di Dalam Diri.

Visualkan seluruh tubuh Ista Dewata memancarkan cahaya suci berwarna putih sangat terang dan kemudian wujud Beliau lebur sepenuhnya menjadi cahaya suci. Lalu cahaya suci ini bergerak diatas kita dan masuk ke dalam diri kita melalui chakra sahasrara atau chakra mahkota.

Cahaya suci ini terserap menyatu dengan diri kita. Membuat badan kita sepenuhnya lebur ke dalam wujud cahaya suci putih terang benderang. Yang

memurnikan, menyembuhkan dan menyempurnakan kesadaran suci di dalam diri kita.

Terus pertahankan visual ini sampai kita dapat menyadari bahwa antara diri kita dengan Ista Dewata sesungguhnya tidak terpisahkan. Semuanya adalah satu. Dengan menemukan kebenaran ini maka disana kita akan termurnikan.

MengucapkanTerimakasih.

Setelah semua sadhana Mantra Yoga ini selesai, kalungkan kembali japa- mala di leher kita. Duduk dengan tenang beberapa saat. Kemudian tampilkan mudra puja mencakupkan tangan di kening sambil dengan penuh rasa hormat mengucapkan terimakasih kepada Ista Dewata.