DEVATA –MEREKA YANG MENYELENGGARAKAN MAHAYUGA

DEVATA –MEREKA YANG MENYELENGGARAKAN MAHAYUGA

_/l\_ ॐ साई राम

Bentuk lain : Shura, Dewata, Hyang
Arti Nama : Sesembahan / Cahaya

Kisah ini punya hubungan dekat sekali dengan kebudayaan Nusantara, terutama di daerah Andalas, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Kisah ini biasa disebut Devata (atau Dewata), sekelompok makhluk adikodrati dalam kepercayaan Sanatana Dharma (atau kita biasa menyebutnya Hindu Dharma), yang dipercaya mengatur elemen tertentu dan terlibat pertempuran konstan dengan para Ashura (raksasa / iblis).

Tugas utama Devata adalah menjaga keberlangsungan Mahayuga – sistem waktu yang terdiri dari empat zaman :
• Satya-Yuga (1,728 juta tahun) : abad kebenaran, di mana dharma (kebenaran) ditegakkan setegak-tegaknya.
• Treta-Yuga (1, 296 juta tahun) : mulai muncul benih-benih adharma (ketidakbenaran). Di masa ini Epos Ramayana dipercaya terjadi.
• Dwapara-Yuga (864.000 tahun) : masa di mana para raja mulai bertikai dan bersengketa atas wilayah dan politik tipu-menipu mulai lumrah. Di masa ini dipercaya terjadi peristiwa-peristiwa dalam Epos Mahabaratha.
• Kali-Yuga (432.000 tahun) : zaman ketidakadilan, kita semua dipercaya lagi berada di zaman ini.

Saat Kali-Yuga berakhir, salah satu dewa di antara Syiwa atau Wisnu akan melebur dunia dan dunia akan di-reset kembali ke zaman Satya-Yuga, dan Mahayuga pun akan kembali terulang.

Devata punya tugasnya masing-masing. Bayu mengatur angin dan sirkulasi udara, Baruna mengatur lautan, Indra memimpin para Devata, Agni memimpin upacara, dan Yama mengadili orang-orang mati. Tapi di samping tugas-tugas rutin mereka, para Devata ini kadang harus menghadapi pertempuran konstan dengan saudara-saudara mereka, para Ashura. Kadang mereka menang tapi pernah juga mereka dipukul mundur dan terusir dari kahyangan. Saat itu terjadi, biasanya para Trimurti akan turun tangan membantu para Devata. Pertempuran antara Devata dan Ashura ini adalah pertempuran abadi antara dharma (kebenaran) dan adharma (ketidakbenaran).

Di Nusantara, Devata juga lazim disebut sebagai ‘Hyang’ – yang artinya keberadaan spiritual tak kasat mata. Para Devata tinggal di suatu tempat bernama Nirvana atau masyarakat Nusantara biasa menyebutnya Kahyangan. Meski ada juga beberapa dewa yang tidak tinggal di sana, misalnya para Trimurti.

Devata sendiri terbagi menjadi beberapa golongan yakni :

1. TRIMURTI

Adalah ‘Tiga Besar’ dalam kepercayaan Sanatana Dharma. Terdiri dari Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Penjaga dan Pemelihara Semesta), dan Syiwa (Pendaur-ulang Semesta). Trimurti boleh dikatakan adalah kelas yang berbeda dari Devata lainnya. Masing-masing dari mereka memiliki kediaman sendiri (dimensi sendiri) dan memiliki kekuatan melampaui kebanyakan Devata.

 

2. ADHITYA – ANAK-ANAK ADHITI

Adalah Devata generasi pertama. Anak-anak dari Prajapati Kashyapa dan istrinya Adhiti. Anggota Adhitya antara lain : Indra, Baruna, Bayu, Yama dan dewa-dewa yang sudah lazim dikenal lainnya. Di dalam Purana, dikisahkan Adhitya dan Ashura sebenarnya bersaudara. Mereka punya satu ayah yang sama yakni Kashyapa namun lahir dari ibu yang berbeda-beda.

 

3. ASTAWASU (DELAPAN ELEMEN)

Adalah kelompok Devata yang terdiri dari delapan dewa penguasa delapan elemen. Astawasu terdiri atas :
• Prithvi (Bumi)
• Anala / Agni (Api)
• Anila / Bayu (Angin)
• Antariksha (Ruang Antar Planet)
• Pratyūsha / Surya (Sinar / Matahari)
• Dyaus / Prabasha (Langit / Fajar)
• Chandramas (Bulan)
• Nakstrani (Bintang)
Di antara para Astawasu, Dyaus adalah yang paling terkenal karena ia adalah satu-satunya Wasu yang hidup cukup lama di antara manusia, yakni sebagai Bisma Devabratha.

 

4. MANU / MANVATARA / PRAJAPATI

Jika agama-agama Samawi mengenal Adam dan Hawa sebagai manusia pertama, Sanatana Dharma punya versi sendiri soal nenek moyang manusia. Mereka disebut Manu / Manvatara / Prajapati. Mereka adalah anak-anak Brahma dan boleh dikata agak sedikit sulit digolongkan sebagai manusia atau Devata. Karena mereka lahir dari Brahma dan bertugas untuk menurunkan manusia (dan dalam kasus Kasyapa, beberapa spesies binatang dan para dewata juga diturunkan darinya), mereka adalah ‘manusia pertama’ untuk setiap Mahayuga. Setiap Manu untuk tiap Mahayuga sudah diciptakan sejak awal masa.

 

5. DEVI (DEWI)

Juga biasa disebut ‘shakti’ – pasangan. Devi adalah Devata wanita sekaligus pasangan hidup para Devata. Tiga dewi yang paling terkenal adalah Saraswati – dewi ilmu pengetahuan dan pasangan Brahma, Laksmi – dewi keberuntungan sekaligus pasangan Wisnu, dan Parwati – dewi perang sekaligus pasangan Syiwa. Ketiga dewi ini lazim disebut Tridevi.

 

6. NAVAGRAHA (SEMBILAN GRAHA) – PLANET DAN BENDA-BENDA ANGKASA.

Adalah kelompok Devata yang mewakili benda-benda angkasa. Anggotanya antara lain :
• Budha (Merkurius),
• Chandra (Bulan),
• Surya (Matahari),
• Mangala (Mars),
• Brihaspati (Jupiter),
• Shukra (Venus),
• Shani (Saturnus),
• Rahu (Gerhana),
• dan Ketu (Aspek Supranatural)

Kita mungkin menyadari bahwa ada beberapa Devata turut tergabung dalam dua kelompok atau lebih, misalnya Agni dan Bayu yang tergabung sebagai Adhitya sekaligus Astawasu, atau Chandra dan Surya yang tergabung dalam golongan Adhitya dan Navagraha.

UPADEVATA dan GANDARWA

Di luar para Devata, ada juga makhluk-makhluk lain yang turut menghuni kahyangan. Salah satunya Upadevata – setengah dewa. Upadevata dalam Sanatana Dharma tidak sama dengan definisi ‘demigod’ ala pantheon Yunani. Perkawinan antara dewa dan makhluk fana tidak serta-merta menghasilkan Upadevata. Upadevata memang biasanya juga keturunan dewa namun tidak semua keturunan dewa diangkat menjadi Upadevata. Beberapa Upadevata yang terkenal adalah Hanoman dan Garuda (tunggangan Wisnu).

Golongan kedua yang tinggal di kahyangan adalah Gandarwa (bidadara) dan Apsara (bidadari). Gandarwa berperan sebagai pemain musik kahyangan dan Apsara sebagai penarinya. Meski begitu ada pula Gandarwa yang punya peran sebagai prajurit penjaga, mereka ini disebut sebagai dwarapala – penjaga gerbang.

Tugas Gandarwa selain menjaga kahyangan dan bermain musik juga sebagai penghantar pesan dari dewa kepada manusia. Salah satu Gandarwa yang terkenal untuk tugas macam ini adalah Narada, yang dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai patih Kahyangan.

 

AVATAR/AWATARA

Devata tak selamanya berada di kahyangan. Dalam kondisi tertentu mereka akan turun ke bumi karena satu dan lain hal. Inkarnasi mereka ini disebut avatar / awatara. Sebab-musabab mereka datang ke bumi bermacam-macam. Ada yang datang karena dikutuk (misalnya Dyaus yang dikutuk menjadi Bisma) dan ada yang turun karena kerelaan hati untuk mengatasi persoalan dunia yang tak mampu lagi dikendalikan manusia (misalnya Wisnu). Awatara yang paling terkenal adalah awatara-awatara Wisnu, yang telah turun sebanyak sembilan kali sejak mahayuga ini tercipta.

• Beberapa arkeolog dan antropolog yang mempelajari Zoroasterisme dan Veda memperkirakan bahwa Devata adalah dewa-dewa kuno masyarakat Indo-Arya di Mesopotamia yang ditolak oleh masyarakat penganut Zoroasterisme, kemudian dibawa penganutnya ke daerah Pakistan dan India di mana kata ‘Daiva’ menjadi Devata dan kata ‘Ahura’ menjadi Ashura. Tapi otoritas Zoroasterisme dan kebanyakan brahmana menolak teori ini.
• Di antara para Trimurti, hanya Syiwa yang tidak menggunakan Gandarwa sebagai dwarapala kediamannya. Ia justru menggunakan ‘gana’ – sebangsa asura yang tunduk kepada Syiwa – sebagai penjaga kediamannya.
• Setiap dewa dan dewi memiliki tunggangan yang disebut ‘wahana’. Wahana biasanya berwujud hewan – baik hewan mitologis maupun hewan yang ada di dunia nyata.
• Tidak semua Upadevata atau Gandarwa lebih lemah dibandingkan Devata. Terkadang ada juga Upadevata yang bisa membuat seorang Trimurti sekalipun kerepotan, misalnya Garuda.
• Beberapa dewa dalam kisah Devata juga dikenal dalam kisah kepercayaan lainnya, terutama dalam Istadewata Buddhisme dan Kami-Shinto.

sumber: Agung Joni