Awatara Siwa-Hanoman

Awatara Siwa-Hanoman

_/l\_ ॐ साई राम
AWATARA SIWA – HANOMAN AWATARA

Nama lain : Anjaneya, Anoman, Hanuman, Hanumat, Bayu Putra, Maha Bala, Phalguna Shaka, Anjani Suta, Rudra.
Arti Nama : Yang Pipinya Cacat (Hanoman), Putra Bayu (Bayu Putra), Yang Sangat Kuat (Maha Bala), Teman Arjuna (Phalguna Shaka), Putra Anjani (Anjani Suta / Anjaneya), Guntur (Rudra).
Ras : Wanara Awatara (Awatara Siwa), Chiranjiwin => Dewa.
Senjata : Gada (dan kuku Pancanaka)
Ayah : Batara Maruta (Bayu) atau Wanara Kesari
Ibu : Anjani
Masa Kemunculan : Dwapara Yuga
Lawan Utama : Rahwana
Peran : Dewa pelindung dari kekuatan jahat

Artikel ini membahas tokoh Hanoman terutama dari sudut pandang Ramayana versi Walmiki, dan Ramayana versi Tulasi.

KELAHIRAN
Ibu Hanoman bernama Anjani, seorang apsara (bidadari) yang dikutuk untuk turun ke bumi. Di bumi ia memilih wujud wanara sebagai rupa duniawinya. Versi Nusantara (Jawa maupun Bali) menyatakan bahwa Anjani adalah anak seorang bidadari dengan seorang rsi bernama Gotama yang berubah menjadi wanara karena berebut Cupu Manik Astagina (sebuah cepuk – kotak perhiasan – yang konon bisa mengabulkan segala kehendak atau melihat pemandangan di belahan dunia mana saja) dengan dua saudaranya Subali dan Sugriwa.

Dalam wujud wanara ini, Anjani ditaksir oleh Bayu, dewa angin yang akhirnya membuahinya. Versi lain mengatakan bahwa Anjani dibuahi oleh Siwa. Tapi apapun versinya, kebanyakan versi (terutama versi Tulasi) mengatakan bahwa Siwa menitis kepada Putra Anjani dan lahirlah seekor wanara kecil yang konon awalnya bernama Anjaneya.

Ada beberapa versi mengenai kelahiran Hanoman. Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.
Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.
Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara.
Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan “Aanjanèya”), yang secara harfiah berarti “lahir dari Anjani” atau “putera Anjani”.
Dari beberapa versi ini tidak ada yang menyebutkan bahwa Rsi Durwasa juga menurunkan ilmu kepada Dewi Anjani untuk memanggil Dewa Bayu.

Pada suatu ketika, Anjani sedang sibuk dengan suatu ‘urusan’ dan Anjaneya merengek minta makan, dan Anjani menyuruh Hanoman mencari buah-buahan yang warnanya jingga. Entah karena alasan apa, Hanoman keliru mengira matahari itu semacam buah berwarna jingga yang sangat besar, apalagi ketika ia melihat Kala Rau (biang gerhana) melintas untuk menelan matahari. Wanara kecil itu menghajar Kala Rau lalu berusaha menelan matahari. Kala Rau yang kaget sekaligus kesal ada monyet kecil yang mengacaukan siklus gerhana akhirnya melapor pada Indra.

Meski Kala Rau dan Indra bermusuhan, tapi Indra menindaklanjuti laporan Kala Rau soal keberadaan monyet kecil ‘kurang ajar’ yang hendak menelan matahari itu. Indra langsung melemparkan bajra (tongkat petir) miliknya kepada Anjaneya dan hantaman bajra itu membuat Anjaneya terhempas ke bumi.

Bayu sempat kaget ketika melihat anaknya jatuh bebas dari angkasa. Dewa angin itu segera menangkap tubuh Anjaneya dan mendaratkannya di sebuah gua. Ketika tahu Anjaneya sudah tidak bernafas, Bayu marah besar dan dengan melihat bekas hantaman di pipi Anjaneya, Bayu langsung tahu bahwa ini adalah ulah Indra. Sebagai bentuk protes, Bayu menghentikan seluruh aliran udara di muka bumi. Kontan saja makhluk-makhluk hidup mulai sekarat dan ini membuat Brahma akhirnya menemui Bayu dan menanyakan alasan Bayu mangkir dari kewajibannya. Bayu akhirnya menjelaskan bahwa ia tidak akan mengalirkan udara lagi karena anaknya tewas di tangan Indra. Brahma pun akhirnya menyeret (lebih tepatnya menteleportasikan) Indra ke hadapan Bayu dan menyuruh raja dewa itu minta maaf pada saudaranya. Bayu sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan permintaan maaf Indra. Ia hanya ingin anaknya hidup kembali. Brahma akhirnya menghidupkan kembali Anjaneya, namun karena wanara itu kini pipinya cacat akibat hantaman bajra Indra, namanya dirubah menjadi Hanoman – yang pipinya cacat. Brahma juga menganugerahkan kekebalan akan Brahmastra pada Hanoman, sementara Indra menganugerahinya keabadian. Tapi … supaya tidak mengancam keselamatan Surya (matahari) lagi, Indra dan Brahma menghapus ingatan Hanoman soal kemampuannya yang bisa terbang.

BERTEMU RAMA
Setelah dewasa, Hanoman mengabdi kepada kakak-beradik pemimpin kerajaan wanara Kiskenda yakni Subali dan Sugriwa. Subali adalah rajanya sementara Sugriwa bertindak sebagai perdana menteri. Sampai suatu ketika Subali mendapat misi untuk membunuh beberapa raksasa di suatu tempat. Pada saat itu Subali berpesan jika dari gua keluar darah berwarna putih, itu artinya dia kalah dan Sugriwa harus menutup pintu gua. Tanpa diduga Subali, ternyata raksasa yang dibunuhnya mengalirkan darah putih dan itu membuat Sugriwa salah paham dan menutup pintu gua.

Sugriwa kembali ke kerajaannya dengan penuh duka. Secara hukum, tahta kerajaan harusnya jatuh ke tangan Anggada, putra Subali dengan Tara. Tapi karena Anggada masih kecil dan dianggap belum layak memimpin oleh para tetua dan perwira (termasuk Hanoman), dewan kerajaan sepakat mengangkat Sugriwa menjadi raja.

Sugriwa memerintah dengan cukup baik sampai suatu ketika Subali – yang ternyata masih hidup – muncul di depan Kiskenda sambil meraung marah lalu langsung menyerang Sugriwa yang dia anggap pengkhianat. Hanoman berusaha menahan Subali, tapi Subali tidak mau dengar. Bahkan ia akhirnya mengusir Sugriwa, Hanoman, dan sejumlah besar dewan kerajaan karena ia anggap berkhianat.

Sugriwa bersama Hanoman akhirnya masuk ke dalam rimba, membentuk sebuah kelompok kecil wanara. Beberapa kali Subali menyerang kelompok Sugriwa dan berkali-kali pula kelompok Sugriwa masuk lebih dalam lagi ke dalam rimba. Dalam hal kekuatan, Subali memang lebih kuat dan perkasa daripada Sugriwa selain itu, Sugriwa tidak pernah mengizinkan Hanoman beradu tanding dengan Subali karena hak menantang seorang raja ada di tangan sesama raja (Hanoman hanya semacam punggawa di kerajaan Sugriwa).

Sampai suatu ketika Hanoman bertemu dengan Rama. Pertemuannya dengan Rama kemudian mengubah keadaan. Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa kembali bertahta, dan sebagai balas budi kepada Rama, Sugriwa mengutus Hanoman, Jambawan, dan sekelompok wanara lainnya untuk mencari keberadaan Sinta. Rama memberikan cincinnya kepada Hanoman supaya saat Hanoman bertemu Sinta, Sinta akan mengenali Hanoman sebagau utusannya.

MENYUSUP KE ALENGKA
Rombongan grup pencari itu diberi petunjuk oleh Sempati tentang letak Alengka. Ketika rombongan itu sampai di bibir pantai, para wanara pun kebingungan karena mereka tidak terbiasa berenang dan hanya beberapa orang dari mereka yang bisa melompat jauh dan itupun tidak aman karena salah-salah mereka bisa dikepung pasukan Alengka ketika mendarat di Alengka sana.

Jambawan, satu-satunya beruang dalam kelompok grup pencari itu, akhirnya memberitahu Hanoman bahwa ia bisa masuk ke Alengka tanpa terdeteksi dengan cara terbang. Butuh waktu agak lama (mungkin beberapa jam) bagi Jambawan untuk memulihkan ‘amnesia’ Hanoman.

Saat ingatannya pulih, Hanoman pun terbang melesat ke angkasa. Saat mendarat di Alengka, ia mengambil rupa sebagai seekor monyet kecil (beberapa versi menyebut ia mengambil rupa sebagai kucing) dan mencari Sinta ke sepenjuru Alengka. Saat Hanoman menemukan Sinta di sebuah taman yang dijaga ketat, Hanoman sempat mengajak Sinta untuk ikut bersamanya tapi Sinta tidak mau dan menyuruh Hanoman kembali kepada Rama supaya Rama mau menyerbu Alengka dan mengambil kembali dirinya dengan jalan kesatria (Aturan kesatria pada masa itu : kalau istri / anak diculik, sang suami / ayah harus datang ke rumah si penculik dan menuntut si penculik mengembalikan keluarga mereka. Jika tidak mau, sang suami / ayah harus adu tanding dengan si penculik sampai salah satunya tewas. Aksi balas menculik seperti yang diusulkan Hanoman bisa dilakukan tapi … agak memalukan).

Pasca keluar dari taman tempat Sita disekap, alih-alih menghadap Rahwana untuk menyampaikan tuntutan Rama, Hanoman lebih memilih ‘cara kasar’ untuk menyampaikan tuntutan Rama. Ia mengamuk dan membunuhi para raksasa sehingga memaksa Indrajit, putra Rahwana, untuk membelenggunya dengan Brahmastra.

Hanoman terbelenggu, dan para raksasa pun beramai-ramai mengarak Hanoman kepada Rahwana. Saat bertemu dengan Rahwana, Hanoman menyampaikan tuntutan Rama : “Kembalikan Sinta dan Paduka akan diampuni, jika tidak Alengka akan dihancurkan dan Sri Rama akan membunuh Paduka!”

Kontan saja Rahwana berang, dan ia pun mengabaikan status Hanoman sebagai duta (di mana pada masa itu duta memiliki kekebalan diplomatik, tidak peduli berapapun kerusakan yang ia timbulkan) dan menyuruh para tentaranya untuk membakar Hanoman. Kesalahan fatal. Karena Hanoman sudah dijanjikan oleh Brahma bahwa takkan ada satupun senjata yang dapat menyakitinya dan Indra menganugerahinya keabadian, maka yang terjadi adalah Hanoman lepas dan dengan ekor yang terbakar, ia membakar rumah-rumah penduduk Alengka sebelum ia memadamkan ekornya di laut dan terbang kembali ke kelompoknya selagi Indrajit dan lainnya kerepotan memadamkan api di Alengka.

Konon pada saat Hanoman ada di Alengka, Hanoman pulalah yang membujuk Wibisana untuk berpaling kepada Rama alih-alih tinggal di Alengka.

PENYERBUAN KE ALENGKA
Karena Rahwana jelas-jelas tidak menunjukkan itikad baik, bahkan saudaranya, Wibisana bergabung pula dengan Rama, maka pertempuran pun tak terhindarkan. Rama dan berbaris menuju Alengka namun sekali lagi terhalang oleh lautan. Karena Baruna – dewa laut – tidak bersedia melanggar hukum alam dengan membelah lautan bahkan untuk seorang Awatara Wisnu sekalipun, Hanoman dan para wanara lainnya akhirnya membangun jembatan yang menghubungkan daratan utama dengan Alengka.

Saat jembatan selesai, pertempuran pun dimulai. Hanoman adalah salah satu petarung utama di kubu Rama. Meski tidak tercatat membunuh tokoh-tokoh utama Alengka, Hanoman berhasil melibas sebagian besar pasukan Alengka. Selain itu, Hanoman juga dikenal sebagai penyelamat Laksmana – saat Indrajit melepaskan panah beracun Nagastra kepada Laksmana.

Efek panah ini fatal : membuat Laksmana koma dan akan mati dalam waktu setengah hari. Para tabib wanara mengatakan hanya tanaman obat Sanjivani (Selaginella bryopteris)yang tumbuh di Himalaya sajalah yang bisa menyembuhkan Laksmana tapi jarak sejauh itu mustahil ditempuh dengan cara biasa. Di tengah kebingungan itu, Hanoman mengajukan diri untuk membawa tanaman itu sebelum matahari terbit keesokan harinya.

Rahwana yang tahu Hanoman akan mencoba mencari penawar bagi Laksmana, mengutus seorang prajurit penyihir bernama Kalanemi untuk menghentikan Hanoman. Hanoman sempat bergumul dengan raksasa itu sepanjang perjalanan sebelum akhirnya berhasil ‘membereskan’ pengganggunya dan sampai di bukit tempat Sanjivani berada.

Tapi … kita semua juga tahu … meski kita disuguhi deskripsi tanaman oleh seorang ahli obat / ahli botani paling ahli sekalipun, kalau kita awam soal tanaman pasti akan kebingungan juga. Begitu pula dengan Hanoman. Karena tidak tahu mana yang Sanjivani dan mana yang bukan, akhirnya Hanoman membawa satu (atau mungkin sebagian) bukit itu kembali ke perbatasan Alengka.

Laksmana kembali ke medan laga dan membunuh Indrajit sementara Rama membunuh Rahwana.

PASCA PERTEMPURAN DI ALENGKA
Pasca pertempuran di Alengka, Rama sempat meminta Sinta membuktikan kesuciannya dengan cara membakar Sinta. Saat Sinta lulus ujian, Rama memboyong Sinta kembali ke Ayodhya dan sebuah pesta akbar diadakan. Hanoman pun diundang ke sana tapi tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Di pesta itu Sinta menghadiahi Hanoman sebuah kalung dari batu permata paling bagus yang ia kenakan saat di pesta. Tapi yang dilakukan Hanoman pada kalung itu adalah menggigitinya (atau melakukan tindakan lain yang intinya merusak kalung itu). Saat beberapa orang menanyakan apa maksud Hanoman ia hanya menjawab bahwa ia sama sekali tidak merasakan rasa / kehadiran Rama dan Sinta dalam batu itu. Karena itu baginya batu itu tidak berharga.

Para hadirin, terutama Laksmana marah kepada Hanoman. Mereka menganggap Hanoman tidak menghargai pemberian Sinta. Tapi Hanoman berkilah bahwa untuk apa ia diberi hadiah kalau ia sudah memiliki Rama dan Sinta dalam hatinya? Laksmana menjadi semakin emosi tapi Rama kemudian menyuruh Hanoman membelah dadanya dan di sana para hadirin menyaksikan di jantung Hanoman tergambar citra Rama dan Sinta.

Dalam pesta itu pula Hanoman mengucapkan salah satu sumpahnya yang terkenal : “Selama nama Rama masih disebut di muka bumi, Hanoman menolak untuk meninggalkan dunia ini.”

Hanoman kemudian menjadi pertapa pasca era Ramayana usai.

PASCA RAMAYANA
Hanoman juga muncul di era Mahabaratha di mana ia pernah ‘mengerjai’ Bima dan Arjuna. Bima pernah dikerjai saat ia tengah melintas di tengah hutan dan mendapati seekor kera putih besar (Hanoman) tengah tidur-tiduran di jalan setapak yang akan dilewati Bima. Bima meminta Hanoman untuk minggir tapi Hanoman tidak mau dan menyuruh Bima melompatinya saja. Bima tidak mau melakukan itu karena hal itu dianggap tidak sopan dan akhirnya Hanoman mengatakan, “Kalau kau bisa angkat ekorku, aku akan minggir.”

Bima awalnya merasa ekor kera putih itu beratnya tidak seberapa dan tapi akhirnya merasa berat sekali saat mengangkat ekor itu. Akhirnya kera itu memperkenalkan diri sebagai Hanoman, saudara satu ayah dengan Bima.

Sementara Arjuna … kadang-kadang kebablasan sombongnya. Arjuna pernah sesumbar bahwa ia lebih hebat daripada Rama dan bisa membuat jembatan dari panah-panahnya tanpa minta bantuan para wanara. Hanoman pun menantang Arjuna untuk membuat jembatan panah sementara Hanoman akan menguji kekuatan jembatannya. Kalau Arjuna kalah, Arjuna harus menyembah Hanoman, demikian pula sebaliknya. Saat jembatan selesai dan Hanoman berpijak pada jembatan itu, jembatan itu hancur lebur. Arjuna pun menghaturkan sembah pada Hanoman namun Hanoman menolak sembah Arjuna.

Sebagai pengganti sembah kepada Hanoman, Arjuna diharuskan membuat sebuah kober / umbul-umbul bergambar Hanoman oleh Krishna dan umbul-umbul itupun dibawa saat Arjuna maju saat perang Bharatayudha. Hanoman konon turut merasuk ke dalam umbul-umbul itu dan saat Karna dikalahkan Arjuna, sosok Hanoman keluar dari umbul-umbul itu dan terbang ke angkasa, ke kahyangan.

HANOMAN DI NUSANTARA
Di Nusantara, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah, Hanoman adalah keponakan Subali dan Sugriwa. Ibunya bernama Anjani dan ayahnya adalah Batara Guru. Hanoman diasuh oleh Batara Bayu dan sesudah dewasa ia dikirim untuk mengabdi pada Sugriwa. Garis besar cerita lainnya sama hanya saja ia dikatakan mencabut kuku Surpanaka (adik Rahwana yang sempat menggoda Rama saat Rama dibuang di hutan) dan kuku itu terpasang di tangan Hanoman sebagai kuku Pancanaka. Di versi wayang ini pula, dikatakan bahwa bukan Rama yang membunuh Rahwana. Rama hanya melukai Rahwana dan Hanoman-lah yang akhirnya menindih Rahwana dengan sebuah gunung serta terus hidup untuk menjaga gunung itu agar sukma Rahwana tidak lepas. Sukma Rahwana ini kadang-kadang lepas dan ‘bikin perkara’ seperti yang pernah terjadi saat sukma Rahwana merasuki Antareja sehingga membuat Gatotkaca dan Antareja ‘berantem’. Hanya Hanoman seorang yang bisa mengalahkan dan memenjarakan kembali sukma Rahwana itu.

Dalam serat Kanda Anoman (yang konon mempengaruhi babar wayang Jawa Timur), dikatakan bahwa Anoman sebenarnya adalah anak Rama dan Sinta sebelum Sinta diculik oleh Rahwana namun wujud awalnya adalah janin yang keguguran (gumpalan darah), dibawa oleh Batara Guru, tak sengaja jatuh di tempat Anjani yang sedang tapa ngodok (tapa tanpa busana) dan ketetesan air mani Batara Guru lalu dimakan oleh Anjani dan Jadilah Anjali Kencana alias Anoman.

Hanoman dalam versi pewayangan Jawa konon mati bertahun-tahun setelah kematian Parikesit (anak Abimanyu) saat melawan seorang raja raksasa,Yaksadewa, yang merupakan jelmaan Batara Kala pada era pemerintahan Raja Jayabaya dari Kadiri.

PEMUJAAN
Para pemuja Hanoman biasa memuja Hanoman sebagai dewa perlindungan dari kekuatan jahat.

• Hanoman berbagi karakteristik yang sama dengan Parasurama yakni sama-sama awatara Trimurti dan sama-sama merupakan Chiranjiwin.
• Hanoman adalah salah satu dari sedikit wanara yang masih diceritakan kisahnya pada era Mahabaratha.
• Hanoman adalah satu-satunya wanara yang bisa terbang dan mengubah wujudnya sesuka hati.
• Dalam banyak Ramayana versi Asia Tenggara di antaranya versi Ramakien (Ramayana versi Thailand), Wayang Bali, dan Wayang Jawa Tengah, Hanoman adalah keponakan dari Subali dan Sugriwa.

Sumber: Agung Joni