AWATARA SIWA – VIRABHADRA

AWATARA SIWA – VIRABHADRA

_/l\_ ॐ साई राम

Nama lain : Veerabhadra
Arti Nama : Amarah, Sahabat Para Pahlawan.
Ras : Dewa, Gana, Awatara Siwa
Senjata : pedang, kapak, tombak, trisula, gada, danda (tongkat pemukul), busur panah, dan elemen (api tanah, air, angin).
Masa Kemunculan : Satya Yuga
Partner : Bhadrakali
Lawan Utama : Prajapati Daksha

Dan Mahadewa mengeluarkan dari mulutnya, sesosok makhluk mengerikan, yang hanya dengan melihat wujudnya saja bisa membuat seluruh rambut seseorang berdiri tanpa terkecuali. Kobaran api yang memancar dari tubuhnya membuatnya terlalu mengerikan untuk dipandang. Ia memiliki banyak lengan dan setiap lengannya memegang senjata yang memancarkan ketakutan bagi siapapun yang menatapnya. “Aku dikenal sebagai Virabhadra, dan aku lahir dari amarah Sang Rudra (Siwa). Wanita ini (yang adalah temanku), dikenal sebagai Bhadrakali dan ia lahir dari murka para dewi.”
(Santi Parwa: Mokshadharma Parwa: Bagian CCLXXXIV)

Virabadhra … adalah wujud lain / awatara Bhatara Siwa yang sangat ditakuti oleh dewa-dewa lainnya setelah apa yang ia lakukan di upacara korban yang dilakukan oleh Daksha. Latar belakang kemunculan awatara ini dimulai ketika Daksha yang mengadakan suatu yajna (upacara korban besar-besaran) secara sengaja tidak mengundang Sati dan Siwa, sebagai wujud ketidaksetujuannya atas pernikahan dua pasangan itu.

Sati merasa ayahnya sebenarnya mengundang mereka dan membujuk Siwa untuk ikut bersamanya ke upacara itu, tapi Siwa menolaknya. Siwa beranggapan bahwa dengan tidak mengundang mereka secara langsung (maupun tidak langsung), Daksha sama sekali tidak ingin mereka berdua hadir di sana. Tapi karena Sati merasa dirinya bakal dicap sebagai anak kurang ajar dan tidak berbakti jika tidak menghadiri upacara ayahnya, tetap bersikeras pergi. Dengan didampingi beberapa gana, Sati turun dari Kailash dan menuju istana Daksha.

Daksha sendiri memang sengaja tidak mengundang anak dan menantunya itu karena secara umum, Daksha tidak pernah menyetujui pernikahan Sati dan Siwa. Daksha dan Siwa adalah dua kutub yang saling berlawanan. Keduanya sama-sama dewa yang menjunjung tinggi laku tapa, tapi jika Daksha mematuhi standar-standar umum yang diberlakukan bagi para pertapa zaman itu (tidak berambut panjang, tidak bicara keras-keras, tidak minum arak, tidak tertawa keras-keras, tidak bertindak secara tidak pantas), Siwa adalah kebalikan dari itu semua. Siwa memanjangkan rambutnya, kadang-kadang minum arak, tinggal di tempat-tempat yang tidak lazim seperti kuburan dan lapangan tempat kremasi jenazah, serta menyanyi dan menari kapanpun dia mau. Saat mengadakan yajna, Daksha mengundang seluruh keluarganya, sekutunya, dewa-dewa kahyangan, para rsi, para raja bawahannya, minus Sati dan Siwa. Ia juga memajang patung Siwa di pintu gerbang yang konon ia perlakukan dengan ‘tidak hormat’ (entah perlakuan macam apa yang dilakukan Daksha).

Ketika Sati tiba, Daksha mencibir ke arah Sati dan bertanya, “Kenapa kau ada di sini Sati? Kau kan bahkan tidak diundang? Atau mungkin akal sehatmu sudah kembali? Dan kenapa kau kemari dengan segala binatang liar itu, oh ya, bukankah suamimu itu juga disebut Dewa Alam Liar? Tapi sayang Sati, aku tak mau mengotori upacara agung ini dengan mengundang dewa dekil macam Siwa, yang sehari-harinya menghabiskan waktu di pekuburan bersama pencuri dan pelaku kriminal lainnya, dengan orang-orang sakit dan lapar (kasta Sudra dan golongan Paria), yang rambutnya panjang serta kusut, dan pakainnya hanya pakaian kulit binatang.”

Dan beberapa tamu pun mulai menertawakan Sati dan Siwa. Sati sakit hati dan bertanya kenapa Daksha bisa setega itu pada anak dan menantunya. Jawaban yang ia terima hanya bentakan. Ketika Daksha sekali lagi menghina Siwa, Sati terdiam sebelum akhirnya menjawab bahwa ia tidak lagi menginginkan dirinya menjadi darah daging Daksha. Sati kemudian bersila, memusatkan pikirannya dan bersumpah akan memutuskan segala ikatan keluarga dengan Daksha. Api mulai membakar tubuhnya dan di saat itulah petaka mulai muncul bagi seluruh peserta upacara itu.

Gana yang mengawal Sati, langsung melabrak ke dalam lapangan dan menyerang para peserta upacara namun mereka dipukul mundur dan dipaksa kembali ke Kailash. Ketika Siwa yang mendengar apa yang terjadi, Siwa shock, terdiam, menangis, sebelum kemudian marah besar. Dari mulutnya ia mengeluarkan sesosok makhluk mengerikan bernama Virabhadra. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa Siwa sendirilah yang menjadi Virabhadra. Siwa kemudian memerintahkan Virabhadra menuju yajna itu sekali lagi dan membunuh semua yang hadir di situ. Tanpa kecuali.

Dan itulah yang dilakukan Virabhadra. Ia membunuh para raja, kesatria, rsi, dan beberapa dewa yang hadir di sana. Seorang dewa kekayaan bernama Bhaga lolos dari maut namun matanya dibutakan oleh Virabhadra. Beberapa dewa ia lemparkan ke sepenjuru lapangan, Indra ia injak-injak, dan tongkat milik Yama ia rusak. Pada puncaknya, Virabhadra memenggal kepala Daksha. Para dewa dan tamu yang masih selamat berdoa kepada Siwa untuk menghentikan Virabhadra dan mengembalikan nyawa Daksha.

Siwa pun tiba di tempat itu dan menghentikan aksi Virabhadra. Pasca melihat kekacauan yang ditimbulkan Virabhadra serta mendengar permohonan para dewa, Siwa mendekati jasad Daksha yang sudah tak berkepala lalu menempatkan kepala kambing di sana. Daksha kembali hidup, tapi kepalanya yang asli sudah lenyap dan sejak saat itu ia menjadi dewa berkepala kambing. Daksha yang hidup kembali akhirnya tunduk di hadapan Siwa, dan sejak saat itu memanggil Siwa dengan sebutan Shankar (Shankara) – yang baik serta bajik. Para dewa lain pun turut bersujud di hadapan Siwa. Bhaga yang sempat dibutakan Virabhadra pun akhirnya dipulihkan penglihatannya.

Tapi Sati tetap tidak bisa hidup lagi dan itu membuat Siwa sangat bersedih hati. Ia akhirnya memanggul jasad istrinya dan mengembara tak tentu arah dan mulai bertingkah layaknya orang tidak waras. Beberapa dewa yang mengikutinya mulai khawatir dengan kondisi ini. Tak peduli apapun yang mereka lakukan, mulai dari perapalan mantra, trik, lawakan, musik, maupun tarian, tak mampu mengembalikan Siwa ke pikiran warasnya. Sampai ketika Wisnu mendatangi Siwa dan mencacah jasad Sati menjadi 52 bagian dengan cakramnya. Siwa tidak langsung sadar, tapi ketika menyadari bahwa jasad Sati sudah tidak ada lagi. Siwa pun mulai undur diri sekali dari dunia. Ia kembali menjalani tapa dan sampai berabad-abad kemudian bergeming di Kailash. Sampai kemudian ia bertemu Parwati.

• Meski tidak pernah disebutkan lagi, Bhadrakali tampaknya ikut andil dalam penyerbuan ke yajna Daksha.
• Sosok Bhadrakali digambarkan mirip dengan sosok Dewi Kali, yang merupakan aspek / awatara dari Parwati.
• Ada berbagai anggapan ke mana Virabhadra setelah penyerbuan ini, ada yang beranggapan ia kembali bersatu dengan Siwa, ada pula yang beranggapan bahwa Virabhadra akhirnya menjadi salah satu gana yang menjaga kediaman Siwa.
• Pasca peristiwa ini, setiap kali para dewa mengadakan upacara, Siwa akan selalu diundang.
• Salah satu versi menceritakan pasca Virabhadra mengamuk, ia langsung kembali ke Kailash, para dewa minta tolong Brahma menemani mereka menghadap Siwa untuk mengajukan perdamaian. Siwa menerima usul perdamaian mereka. Di versi ini, Wisnu juga ikut kena hajar Virabhadra dan Siwa tidak berkelana seperti orang tidak waras.

Sumber: Agung Joni