hindu bali

3 Pilar Pokok Agama Hindu

Agama Hindu merupakan agama terbesar no 3 di dunia yang memiliku penganut kurang lebih 1 milyar lebih di seluruh dunia,

Agama Hindu pada awalnya disebut Sanatana Dharma yang memiliki makna “kebenaran yg kekal abadi”. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang sindu (diucapkan indu), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut Sanatana Dharma disebut Hindu.

Agama Hindu adalah agama universal yang berarti diterapkan berbeda di setiap tempat sesuai adat budaya dan wilayah yang menganut hindu. Itu sebabnya hindu India berbeda dengan Hindu Bali begitu juga Hindu Bali berbeda dengan Hindu Tenger. Namun perbedaan tersebut hanya sebatas cara bentuk pakaian dan persembahan dari filosofi ajaran masih sama yaitu pedomanya adalah WEDA

Untuk mengenal hindu lebih dalam maka kita perlu tahu kerangka dasar atau pilar agama hindu, ada 3 pilar dasar agama Hindu yaiti: Tatwa (Filsafat), Susila (Etika), dan Upacara (Yadnya)

TATWA (FILSAFAT)

Hindu mempunyai kerangka dasar kebenaran yang sangat kokoh. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa. Tattwa dalam agama Hindu dapat diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut Pramana.

Ada 3 (tiga) cara penyerapan pokok yang disebut Tri Pramana.

Agama Pramana Agama Pramana adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan- ucapan di dalam kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.Ceritera- ceritera itu dipercayai dan diyakini karena kesucian batin dan keluhuran budi dari para Maha Resi itu. Apa yang diucapkan atau diceriterakannya menjadi pengetahuan bagi pendengarnya. Misalnya: Guru ilmu pengetahuan alam berceritera bahwa di angkasa luar banyak planet- planet, sebagaimana juga bumi berbentuk bulat dan berputar. Setiap murid percaya kepada apa yang diceriterakan gurunya, oleh karena itu tentang planet dan bumi bulat serta berputar menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya, walaupun murid- murid tidak pernah membuktikannya.

Anumana Pramana Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi. Cara menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: YATRA YATRA DHUMAH, TATRA TATRA WAHNIH atinya di mana ada asap di sana pasti ada api. Contoh: Apabila kita memperhatikan sistem tata surya yang harmonis, di mana bumi yang berputar pada sumbunya mengedari matahari, begitu pula bulan beredar mengelilingi matahari pada garis edarnya, tidak pernah bertabrakan, begitu teratur abadi. Kita lalu menjadi kagum dan berpikir bahwa keteraturan itu tentu ada yang mengatur, the force of nature yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.

Pratyaksa Pramana Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini. Contohnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri keajaiban seseorang selamat dari kecelakaan yang sangat fatal dan bila kita melihat sangat tidak mungkin untuk bias selamat, hanya kekuatan yang maha dahsat yang mampu melakukan itu inilah disebut Pratyaksa Pramana

Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki dalam tattwa, sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan. Kepercayaan dan keyakinan dalam Hindu disebut dengan sradha.

Dalam Hindu, sradha disarikan menjadi 5 (lima) esensi, disebut Panca Sradha.

Secara etimologi panca sradha berasal dari kata panca dan sradha. Panca berarti lima dan sradha berarti keyakinan. Jadipanca sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu.

Bagian Panca Sradha

  1. Percaya terhadap adanya Brahman
  2. Percaya terhadap adanya atman
  3. Percaya terhadap adanya karmaphala
  4. Percaya terhadap adanya punarbhawa
  5. Percaya terhadap adanya moksa

Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini, perjalanan hidup seorang Hindu menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa.

Ada 4 (empat) jalan yang bisa ditempuh, jalan itu disebut Catur Marga.

Bhakti Marga Bhakti Marga adalah jalan menuju Tuhan dengan cara menunjukan Bhakti kita (berbakti, cinta pada Tuhan dan sesama). Kata Kunci dari Bhakti Marga adalah “sayangi semuanya”. Sayangi Tuhanmu, sayangi keluargamu, sayangi teman teman mu, bahkan kau harus menyayangi musuhmu Contoh Pelaksanaan Bhakti Marga: Melaksanakan Sembahyang pada Tuhan , menyanyikan nama nama Ketuhanan, melaksanakan Japa, menyayangi SEMUA MAHLUK termasuk musuhmu sendiri. Lakukan semua itu dengan dilandasi penuh rasa Bhakti kepada Tuhan, maka anda telah berhasil melaksanakan Bhakti Marga. Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra tentang Bhakti salah satunya adalah: “Arcata prarcata priyam edhaso Arcata, arcantu putraka uta puram na dhrsnvarcata” Rgveda VIII.69.8) “(Pujalah, pujalah Dia sepenuh hati, Oh cendekiawan, Pujalah Dia. Semogalah semua anak- anak ikut memuja- Nya, teguhlah hati seperti kukuhnya candi dari batu karang untuk memuja keagungan- Nya).”

Karma Marga Kata Kunci dari Karma Marga adalah “layani semua”. Karma Marga adalah jalan meuju Tuhan dengan cara bekerja atau melakukan pelayanan tampa pamrih. Lakukanlah semua pekerjaan atau pelayanan itu sebagai persembahan kepada Tuhan dan jangan pernah mengharapkan pabrih atau hasilnya. Contoh Pelaksanaan Karma Marga: Bila anda memberi bantuan kepada pengemis, jangan sekali sekali anda mengharapkan suatu saat anda akan di bantu oleh orang lain ataupun jangan pula anda mengharapkan sesuatu pada pengemis itu, bahkan jangan sekali kali anda mengharapkan suatu saat anda akan mendapat rezeki karena anda telah menolong pengemis tersebut. Yang anda harus lakukan adalah: beri bantuan pada pengemis itu dengan tulus ikhlas hanya ingin membantu pengmis itu. Dalam Bhagawadgita. III.19 dinyatakan sebagai berikut: “Tasmad asaktah satatam karyam karma samacara, asakto hy acaran karma, param apnoti purusah.” Artinya : “Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada hasilnya, sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama.” Dalam Bhagawadgita III.8 juga menegaskan sebagai berikut: “Niyatam kuru karma twam karma jyayo hyakarmanah sarira-yatrapi ca ten a prasidhyed akarmanah.” Artinya : “Bekerjalah seperti yang telah ditentukan sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat dan bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya.” Atharwaveda VIII.1.6.: “udyanam te purusa navayanam, jivatum te daksatatim krnomi” Artinya : “Oh manusia, giatlah bekerja untuk kemajuan, jangan mundur , Aku anugerahkan kekuatan dan tenaga.”

Jnana Marga  Jnana Marga adalah cara mencapai Tuhan dengan cara mempelajari kitab Suci Veda. Jalan ini cukup sulit untuk dilakukan oleh orang biasa, karena tidak semua orang mampu untuk memahami secara benar maksud yang terkandung dalam Veda. Bila salah arti atau salah mengartikan bias berbahaya bukanya kedamaian yang kita dapat past banya resiko seperti yang terjadi saat ini banyak kerusuhan berlandaskan agama atau yang paling sering biasa menjadi sangat fanatik yang berlebihan sehingga memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Disarankan jika anda ingin mempelajari Kitab Suci Veda, saya sangat menyarankan anda untuk membaca Bhagawad Gita, karena Bhagawad Gita merupakan ajaran Veda yang sudah disederhanakan, sehingga orang biasa pun bisa memahami maksud yang terkandung dalam Bhagawad Gita. Selain Bhagawad Gita, anda juga bisa mempelajari Itihasa (Mahabarata & Ramayana) dan Purana.

Raja Yoga Raja Yoga adalah cara mencapai Tuhan denga cara Meditasi, Perenungan Tuhan, Pengendalian (Tapa). Cara ini sulit dilakukan oleh orang yang tidak terlatih. Bila anda ingin melakukan Raja Yoga saya sarankan carilah guru spiritual yang bisa membimbing meditasi anda, sehingga meditasi anda akan berhasil dan anda bisa mencapai Tuhan denga cara ini. Demikianlah tattwa Hindu Dharma. Tidak terlalu rumit, namun penuh kepastian. Istilah- istilah yang disebutkan di atas janganlah dianggap sebagai dogma, karena dalam Hindu tidak ada dogma. Yang ada adalah kata- bantu yang telah disarikan dari sastra dan veda, oleh para pendahulu kita, agar lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pencerahan, dalam pencarian kebenaran yang hakiki.

SUSILA (ETIKA)

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.

Kata Susila terdiri dari dua suku kata: “Su” dan “Sila”. “Su” berarti baik, indah, harmonis. “Sila” berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan secara harmonis dengan lingkungannya.

Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis dengan Tuhan, antara sesama manusia ,dan alam semesta (lingkungan) dan hubungan yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.

Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.

TRI KAYA PARISUDHA

Tri artinya “tiga”, kaya artinya “Karya atau perbuatan” sedangkan Parisudha artinya “penyucian”

Jadi Tri Kaya Parisudha berarti tiga perbuatan atau prilaku yang harus di sucikan. Yang dimana sangat berpengaruh di dalam kita menjalani hidup sebagai umat manusia.

Adapun bagian – bagian dari trikaya parisudha aadalah sebagai berikut:

MANACIKA Yang berarti berpikir suci atau berpikir yang benar. Karena pikiran yang mengundang sifat dan seluruh organ tubuh untuk melakukan sesuatu. Maka ada baiknya jika pikiran kita selalu bersih dan tselalu berpikir positif

WACIKA Yang berarti berpikir suci atau berpikir yang benar. Karena pikiran yang mengundang sifat dan seluruh organ tubuh untuk melakukan sesuatu. Maka ada baiknya jika pikiran kita selalu bersih dan tselalu berpikir positif

KAYIKA Yang berarti berkata yang benar. maka baiknyalah kita di dalam kehidupan sehari – hari sebaiknya berkata yang benar ,tidak menyingguang ataupun menghina dan mencaci orang lain.

Yang berarti perbuatan atau prilaku suci atau berprilaku yang benar, dimana perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari sangat berpengaruh di dalam diri manusia. Maka sebaiknyalah kita berprilaku yang baik demi terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama manusia.

Dari ketiga unsur tri kaya parisudha ini saling memiliki keterikatan yaitu dmana jika kita sebagai umat manusia sudah berfikir yang benar/suci maka terciptalah perkataan yang suci pula dan bila perkataan sudah benar maka perbuatan kitapun pasti akan benar pula.

Jika pedoman Tri Kaya Parisudha sudah diketahui agar tercipta keharmonisan di antara kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan maka kita kita melanjutkan ke Panca Yama dan Niyama Brata

Panca Yama Bratha (5 Kebaikan yang harus dilakukan)

Dan Panca Nyama Bratha (5 keburukan yang harus tidak dilakukan)

PANCA YAMA BRATA

Panca Yama Brata terdiri dari kata Panca artinya “lima”, Yama artinya “pengendalian”, Brata artinya “taat terhadap sumpah”. Panca Yama Brata artinya lima macam disiplin manusia dalam mengendalikan keinginan.

Bagian – Bagian Panca Yama Brata

Ahimsa

Ahimsa berasal dari dua kata yaitu : “a” artinya tidak, “himsa” artinya menyakiti, melukai, atau membunuh. Jadi, Ahimsa artinya “tidak menyakiti, melukai, atau membunuh mahluk lain baik melalui pikiran, perkataan, dan tingkah laku secara sewenang – wenang”.

Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk tidak membunuh atau menyakiti mahluk lain adalah dosa. Ajaran Ahimsa itu merupakan salah satu faktor susila kerohanian yang amat penting dan amat utama. misalnya tidak menyakiti teman atau orang lain, tidak boleh membunuh, kita boleh membunuh untuk mempertahankan hidup asal tidak didorong dengan Nafsu atau untuk kesenangan semata Jadi, meskipun ajaran Ahimsa itu berarti tidak membunuh tetapi dalam batas-batas tertentu kita diperbolehkan membunuh.

Contoh : di dalam Kitab Slokantara disebutkan ada empat macam pembunuhan yang diperbolehkan, yaitu :

  • Dewa Puja : Persembahan kepada DEwa ( Dewa Yadnya )
  • Pitra Puja : Persembahan kepada Roh leluhur ( Pitra Yadnya )
  • Athiti Puja : Persembahan kepada tamu yang kita hormati
  • Dharma Wighata : kewajiban bagi semua orang membunuh mahluk yang mengganggu atau memberi penderitaan terhadap umat manusia.

Sedangkan mahluk yang kita persembahkan kepada Dewa Puja, Pitra Puja, Athiti Puja, dan Dharma Wighata pun kalau untuk upacara berarti kita menolong untuk meningkatkan jiwanya. Dengan demikian sebenarnya ajaran Ahimsa itu tidak lain harus memperhatikan dan mengendalikan tingkah lakunya agar pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak menyakiti orang lain atau mahluk lain. Setiap pikiran, perkataan, perbuatan yang tujuannya menyakiti orang lain maka disebut perbuatan Himsa.

Oleh karena itu hindari perbuatan Himsa terhadap semua mahluk. Kita harus saling asah, asih, dan asuh terhadap sesamanya. Karena jiwatman kita sama dengan jiwatman mahluk lain yang berasal dari satu sumber yaitu Paramaatman ( Sang Hyang Widhi ).

Brahmacari

Kata Brahmcari terdiri dari dua kata, Brahma dan cari atau carya. Brahma artinya Ilmu pengetahuan sedangkan Cari atau carya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu : Car artinya gerak atau tingkah laku. Jadi Brahmacari artinya “tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan tentang ketuhanan dan kesucian”

Brahmacari juga disebut masa Aguron – guron ( masa berguru ).

Misalnya seorang siswa kerohanian harus mempunyai pikiran yang bersih yang hanya memikirkan pelajaran atau ilmu pengetahuan saja, supaya perasaan dan pikiran bisa terpusat. Belajar dengan baik perlu adanya tata tertib yang baik seperti : pemakaian waktu, kebersihan, kesopanan, ketertiban pembagian tugas, dan juga sangsi – sangsi pelanggaran yang lebih penting lagi, seorang siswa kerohanian atau seorang Brahmacari dilarang kawin, berdagang, dan berpolitik. Petunjuk – petunjuk di atas itu dalam menuntut ilmu pengetahuan selama Brahmacari adalah merupakan kunci keberhasilan bagi seorang siswa kerohanian. Barang siapa yang tidak mematuhi aturan – aturan di atas dan tidak rajin, serta tidak tekun jpada masa ini pasti akan gagal.

Satya

Satya artinya : benar, jujur, dan setia. Satya juga diartikan sebagai gerak pikiran yang patut diambil menuju kebenaran, yang didalam prakteknya meliputi kata – kata yang tepat dan dilandasi kebajikan untuk mencapai kebaikan bersama. Jadi, Satya tidak sepenuhnya diartikan benar, jujur dan setia tetapi di dalam pelaksanaannya melihat situasi yang bersifat relatif.

Maka di sinilah kita menempuh jalan Satya yang pelaksanaannya melihat situasi dan kondisi yang relatif. Satya, kejujuran untuk mencari kebenaran ini memang memgang peranan yang sangat penting di dalam ajaran kerohanian untuk mencapai kelepasan atau moksa. Di dalam sastra sering kita jumpai sebagai motto atau semboyan yaitu : “ Satyam eva jayate “ yang artinya “hanya kejujuranlah yang menang bukan kemaksiatan atau kejahatan”.

Kesetiaan, kejujuran hendaknya dipakai pedoman dalam setiap tindakan atau perbuatan kita sehari – hari. Dalam ajaran satya kita mengenal Panca Satya, yaitu :

  • Satya Wacana artinya : setia pada kata – kata
  • Satya Herdaya artinya : setia pada kata hati
  • Satya Laksana artinya : setia dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
  • Satya Mitra artinya     : setia pada teman
  • Satya Semaya artinya   : setia pada janji.

Awyawaharika

Awyawahara berarti tidak terikat pada kehidupan duniawi (tan awiwada). Dalam kehidupan ini harus mampu mengendalikan indria dari obyek duniawi. Karena bila indria yang mengendalikan manusia maka ia akan terjerumus dalam kesengsaraan. Kesengsaraan itu timbul dari dalam diri manusia yang tidak pernah merasa puas terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Ketertarikan terhadap benda duniawi akan membuat manusia selalu tenggelam dalam awidya. misalnya setelah menjadi seorang pandita, maka yang bersangkutan tidak dibenarkan melakukan kegiatan jual beli dengan tedensi keuntungan yang berlipat-lipat, simpan pinjam (rna rni) dan memperlihatkan kepandaian serta memupuk dosa kecuali menjaga harta warisan, menjaga keutuhan keluarga, dan kesejahteraan istri, anak dan cucu.

Asteya atau Astenya

Asteya berarti tidak mencuri atau memperkosa milik orang lain seperti.

contohnya: tidak mengambil barang miliki orang lain tanpa ijin. Ini berarti bahwa siapapun orangnya khususnya pandita diperbolehkan mengambil milik orang lain ketika ia merasa haus dan lapar dalam perjalanan jauh. Tetapi barang yang diambil hanya sebatas untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Tentu tidak dibenarkan barang yang diambil melebihi keperluan apalagi sampai dijual. Segala perbuatan hendaknya tidak didasari oleh sad ripu. Jadi segala keinginan untuk mengambil ataupun memperkosa milik orang lain yang didasari oleh sad ripu harus dikendalikan.

 

PANCA NYAMA BRATA

Pengertian Panca Nyama Brata mempunyai arti lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental, untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin. Panca Nyama Brata adalah untuk mengendalikan semua akibat – akibat buruk yang ditimbulkan oleh mental dan pikiran.

Bagian – Bagian Panca Nyama Brata

Akroda

Akroda artinya tidak marah, atau tidak mempunyai sifat marah. Dengan kata lain merasa marah boleh tapi bertindak marah dengan perkataan apalagi tindakan tidak boleh.

Salah satu dari sifat – sifat marah adalah mudah tersinggung. Sifat inilah yang harus dikendalikan sehingga manusia tidak mudah marah.

Dengan mampunya manusia menahan sifat marah maka manusia akan mempunyai jiwa yang sabar. Kesabaran adalah sifat yang mulia. Orang sabar tidak mudah tersinggung, sehingga akan disenangi oleh teman – teman. Orang yang diajak bicara akan merasa senang. Ia akan selalu tenang dalam menghadapi segala masalah. Pekerjaan dikerjakan dengan rasa tenang sehingga akan menghasilkan yang baik. Seperti apa yang diuraikan dalam “kitab Sarasamuccaya” sloka 94, sbb : “ Kesabaran hati merupakan kekayaan yang sangat utama, itu sebagai emas dan permata. Orang yang mampu mengendalikan nafsu ( kemarahan), tidak ada yang melebihi kemuliaan”.

Guru Susrusa

Guru Susrusa artinya hormat dan bakti terhadap guru. Guru Susrusa juga berarti mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran – ajaran dan nasehat guru.

Contoh: Siswa yang baik akan selalu berbakti dan memperhatikan sikap hormat terhadap gurunya. Mempelajarai apa yang diajarkan. Dalam hal Guru, biasanya ada empat macam guru yang disebut Catur Guru : yaitu Guru Rupaka yaitu orang tua, Guru pengajian yaitu Bapak dan Ibu Guru disekolah, Guru Wisesa adalah pemerintah, dan yang stunya Guru Swadyaya yaitu Tuha ( Sang Hyang Widhi )

Sauca

Sauca berasal dari kata “ SUC “ yang artinya bersih, murni atau suci. Jadi yang dimaksud Sauca adalah Kesucian dan kemurnian lahir batin. Dalam silakrama disebutkan sebagai berikut :

“ Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. “

Banyak yang dapat kita usahakan untuk mencapai kesucian lahir maupun batin. Kesucian lahir ( jasmani ) dapat kita capai dengan selalu membiasakan hidup bersih., misalnya mandi yang teratur, membuang sampah pada tempatnya dsb. Sedangkan kesucian batin ( rohani ) dapat dilakukan dengan rajin sembahyang, menghindari pikiran dari hal – hal negatif. Dengan jalan mengusahakan kesucian lahir batin kita akan mudah mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi

Aharalagawa

Ahara Lagawa brasal dari kata Ahara artinya makan, dan Lagawa artinya ringan. Jadi Ahara Lagawa artinya makan yang serba ringan dan tidak semau – maunya. Makan yang sesuai dengan kemampuan tubuh. Ahara Lagawa berarti juga mengatur cara dan makanan yang sebaik – baiknya. Lawan dari Ahara Lagawa adalah kerakusan. Kerakusan akan menghalangi dan merintangi kesucian batin.

Misalnya agar badan menjadi sehat, makanlah makanan yang banyak mengandung gizi. Orang yang makan teratur dan bergizi badannya menjadi sehat dan pikirannya menjadi segar dan cerdas. Sebaliknya orang yang makan berlebihan, tidak teratur dan suka minum minuman keras seperti arak, bier dan sejenisnya, maka badannya menjadi sakit dan sarafnya terganggu. Serta pikiranpun menjadi kacau. Didalam kitab Silakrama diuraikan panjang lebar mengenai aturan – aturan makan dan minum. Disebutkan pula binatang yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Demikian pentingnya pengendalian dalam hal makan, maka ada salah satu cara pengendaliannya yaitu dengan melakukan “ Upawasa “ artinya tidak makan dan minum, yang biasanya dilakukan pada waktu Hari Raya NYepi dan Hari Siwaratri.

Apramada

Apramada artinya tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban. Apramada ialah tidak segan – segan untuk mempergunakan hidup itu sebagai Sadana / jalan guna melakukan Yoga dan Samadi.

Misalnya Seorang siswa harus tidak segan – segan untuk menurut ajaran dan nasehat guru. Tidak boleh segan mengucapkan berkali – kali menghafal dan mengulangi pelajaran yang diberikan oleh guru. Tidak boleh segan – segan bertanya bila ada suatu persoalan yang belum jelas. Dengan berusaha melaksanakan kewajiban sendiri ( Swadharma ) dan menghormati kewajiban orang lain ( para dharma ), maka keharmonisan akan dapat dicapai, yang pada akhirnya kebahagiaan juga akan dapat dicapai.

Dalam kitab Bhagawad Gita Bab XVIII, 47 disebutkan :

Lebih baik swadharma diri sendiri meskipun kurang sempurna dari pada dharma orang lain yang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.

Sloka diatas menegaskan agar kita melaksanakan kewajiban sendiri seperti sebagai pelajar maka laksanakan kewajiban sebagai pelajar, jangan lalai, jika sebagai pelajar melalaikan kewajiban sebagai pelajar, maka kita berdosa dan menjadi bodoh.

selain kita menegnal Panca Yama Bratha dan Panca Nyama Bratha, juga ada Dasa Yama dan Dasa Nyama Brata Adapun penjelasannya singkatnya sebagai berikut:

Dasa Yama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri, yaitu :

  1. Anresangsya atau Arimbawa – tidak mementingkan diri sendiri
  2. Ksama artinya suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan.
  3. Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang.
  4. Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain.
  5. Dama artinya dapat menasehati diri sendiri.
  6. Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran.
  7. Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama makhluk.
  8. Prasada artinya berpikir dan berhati suci dan tanpa pamrih.
  9. Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun.
  10. Mardhawa artinya rendah hati, tidak sombong dan berpikir halus.

Dasa NYama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri yang utama, yaitu :

  1. Dhana artinya suka berdewaman tanpa pamrih.
  2. Ijya artinya pemujaan terhadap Hyang Widhi dan leluhur.
  3. Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi agar dapat mencapai ketenangan bathin.
  4. Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran kepada HYang Widhi.
  5. Upasthanigraha artinya pengendalian hawa nafsu birahi.
  6. Swadhyaya artinya tekun mempelajrai ajaran-ajaran suci dan pengetahuan umum.
  7. Bratha artinya taat akan sumpah dan janji.
  8. Upawasa artinya berpuasa atau pantang terhadap suatu makanan dan minuman yang dilarang dalam ajaran agama.
  9. Mona artinya membatasi perkataan.
  10. Snana artinya tekun melakukan penyucian diri tiap hari dengan jalan mandi dan sembahyang.

Tri Mala

3 sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya.

Tri mala merupakan tiga kotoran yang melekat pada jiwa manusia akibat pengaruh buruk dari nafsu yang tak terkendalikan dan sangat bertentangan dengan kesusilaan.

Tri mala meliputi :

  • Mithia Hrdaya : selalu berperasaan dan berpikiran buruk, buruk sangka kepada orang lain.
  • Mithia Wacana : berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji.
  • Mithia Laksana : berbuat kurang ajar, tidak sopan, hingga merugikan orang lain.

Selain tiga musuh yang tersebut diatas ada tiga musuh yang menghambat perkembangan manusia dalam berjuang melaksanakan Tri Kaya Parisudha, yang dikenal dengan nama Tri Mala Paksa.

Tri Mala Paksa meliputi :

  • Kasmala : perbuatan yang hina dan kotor.
  • Mada : perkataan, pembicaraan dusta dan kotor.
  • Moha : pikiran perasaan curang dan angkuh.

Sad Ripu

Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi.

Sad Ripu berasal dari kata sad yang berarti enam dan ripu yang berarti musuh. Jadi Sad Ripu berarti enam musuh yang berada dalam diri manusia.

  • Kama : nafsu, keinginan Kama yang dimaksud dalam sad ripu ini adalah nafsu atau keinginan yang negative. Manusia memang harus memiliki keinginan, tanpa keinginan hidup ini akan terasa datar sekali. Tetapi keinginan yang sifatnya positif, seperti ingin jadi dokter, guru dan lainnya. Keinginan yang terkendali akan menjadi teman yang akrab bagi kita.
  • Lobha : tamak, rakus Lobha berarti tamak atau rakus yang sifatnya negative sehingga merugikan orang lain. Lobha yang sifatnya negative akan menyebabkan seseorang terdorong untuk melakukan kejahatan karena merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya
  • Krodha : kemarahan Krodha berarti kemarahan. Orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya akan menyebabkan kerugian pada diri sendiri maupun orang lain. Bahkan bisa sampai membunuh orang lain. Banyak tindakan – tindakan anarkis dan Kriminal yang timbul karena kemarahan. Seperti merusak barang milik orang lain, memukul teman, bahkan ada yangtega membunuh keluarganya sendiri.
  • Moha : kebingungan Moha berarti kebingungan yang dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap sehingga seseorang tidak dapat berfikir secara jernih. Hal ini akan menyebabkan orang tersebut tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Akibatnya hal – hal yang menyimpang akan dilakukannya. Banyak penyebab seseorang menjadi bingung, seperti marah, mendapatkan masalah yang berat, kehilangan sesuatu yang dicintai dan sebagainya.
  • Mada : mabuk Mada berarti mabuk. Orang mabuk pikiran tidak berfungsi secara baik. Akibatnya timbulah sifat – sifat angkuh, sombong, takabur dan mengucapkan kata – kata yang menyakitkan hati orang lain. Seperti mabuk kekayaan yang dimilikinya, mabuk karena ketampanan. Mabuk juga dapat ditimbulkan karena minum minuman keras. Dengan minum minuman keras yang berlebihan akan menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran, sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
  • Matsarya : dengki, iri hati Matsarya berarti dengki atau iri hati. Hal ini akan menyiksa diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. Orang yang matsarya merasa hidupnya susah, miskin, bernasib sial, sehingga akan menyiksa batinnya sendiri. Selain itu bila iri terhadap kepunyaan orang lain maka akan menimbulkan rasa ingin memusuhi, berniat jahat, melawan dan bertengkar, sehingga merugikan orang lain.

Catur Asrama

4 tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menjalani dharmanya.

Catur Asrama terdiri atas dua kata yakni “ Catur”, yang berarti empat dan “Asrama”, berarti tahapan atau jenjang Jadi Catur Asrama “artinya empat jenjang kehidupan yang harus dijalani untuk mencapai moksa”

Atau catur asrama dapat pula diartikan sebagai empat lapangan atau tingkatan hidup manusia atas dasar keharmonisan hidup dimana pada tiap- tiap tingkat kehidupan manusia diwarnai oleh adanya ciri- ciri tugas kewajiban yang berbeda antara satu masa (asrama) dengan masa lainnya, tetapi merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan

Bagian – Bagian CATUR ASRAMA

BRAHMACARI ASRAMA

Brahma cari terdiri dari dua kata yaitu Brahma yang berarti ilmu pengetahuan dan Cari yang berarti tingkah laku dalam mecari dan menuntut ilmu pengetahuan.

Brahmacari berarti “tingkatan hidup bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan”

Kehidupan para pelajar di mulai dengan upacara Upanayana, sebagai hari kelahirannya yang kedua. Mereka harus dibuat tabah dan sederhana dalam kebiasaan – kebiasaan mereka harus bangun pagi – pagi , mandi melakukakn sandhya & japa gayatri serta mempelajari kitab – kitab suci.

Menurut ajaran agama hindu, dalam brahmacari asrama, para siswa dilarang mengumbar hawa nafsu sex. Adapun hubungan antara perilaku seksual dan brahmacari dapat di ketahui melalui istilah berikut :

Sukla brahmacari

Orang yang tidak kawin semasa hidupnya, bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka sudah berkeinginan untuk nyukla brahmacari sampai akhir hayatnya.

Sewala brahmacari

Orang yang menikah sekali dalam masa hidupnya

Kresna brahmacari

Pemberian ijin untuk menikah maksimal 4 kali karena suatu alasan yang tidak memungkinkan diberikan oleh sang istri, seperti isang istri tidak dapat menghasilkan keturunan, sang istri sakit-sakitan, dan bila istri sebelumnya memberikan ijin.

GRHASTA ASRAMA

Tahapan yang kedua tentang grhasta / berumah tangga .tahapan ini dimasuki pada saat perkawinan. Tahapan ini merupakan hal yang sangat penting, karena menunjang yang lainnya. Perkawinan meerupakan salah satu acara suci bagi seorang Hindu. Istri merupakan rekan dalam kehidupan ( Ardhangini ), ia tidak dapat melakukan ritual agama tanpa istrinya.

Sebuah rumah tangga harus mendapatkan artha yang berlandaskan Dhrma dan dipergunakan dengan cara yag pantas. Ia harus memberikan 1/10 bagian dari penghasilannya untuk amal.

Beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan dalam berumah tangga :

  • Melanjutkan keturunan
  • Membina rumah tangga
  • Bermasyarakat

Melaksanakan panca yajnya :

Dewa Yajna : persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya

  • Rsi Yajna :persembahan pada para rsi, guru, maupun tokoh atau pemuka agama
  • Manusa yajnya :persembahan pada sesama manusia
  • Pitra Yajna : persembahan pada para leluhur
  • Bhuta Yajna :persembahan kepada para bhuta.

WANAPRASTA ASRAMA

Tahapan yang ketiga wanaprstha, tahapan ini merupakan suatu persiapan bagi tahap akhir yaitu sannyasa . setelah melepaskan segala kewajiban seorang kepala rumah tangga, ia harus meninggalkanya menuju hutan atau sebuah tempat terpencil di luar kota untuk memulai meditasi dalam kesunyian pada masalah spiritual yang lebih tinggi.

Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/ moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.

Adapun ciri-ciri orang yang telah dapat masuki tahap wanapratha ini adalah: usia yang sudah lanjut, mempunyai banyak pengalaman hidup, mampu mengatasi gelombang pahit getirnya kehidupan, serta mempunyai kebijaksanan yang dilandasi oleh ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Telah memiliki keturunan atau generasi lanjutan yang sudah mapan dan mampu hidup mandiri.serta tidak bergantung lagi pada orang tua baik dibidang ekonomi maupun yang lainnya.

SANIASA / BHIKSUKA

Tahap yang terkhir adalah sannyasin. Bila seseorang laki- laki menjadi seorang sannyasin, ia meninggalkan semua miliknya, segala perbedaan golongan,segala upacara ritual dan segala keterikatan pada suatu negara, bangsa atau agama tertentu. Ia hidup sendiri dan menghabiskan waktunya dalam meditasi. Bila ia mencapai keadaan yang indah dari meditasinya yang mendalam, ia mengembirakan dalam dirinya sendiri. Ia sepenuhnyaa tak tertarik pada kenikmatan duniawi. Ia bebas dari rasa suka dan tidak suka, keinginan, keakuan,nafsu ,kemarahan, kesombongan dan ketamakan. Ia memiliki visi yang sama dan pikiran yang seimbang dan ia mencintai semuanya. Ia mengembara dengan bahagia dan menyebarkan brahma jnana atau pengetahuan sang diri. Ia sama ketika dihormati maupun dicaci, dipuja dan dikecam, berhasil maupun gagal. Ia sekarang adalah atiwarnasrami yang mengatasi warna dan asrama. Ia seorang laki – laki yang bebas sepenuhnya. Ia tak terikat oleh sutau kebiasaan adat masyarakat.

Sannyasin adalah seoang laki- laki idaman. Ia telah mecapai kesempurnaan dan kebebasan. Ia adalah Brahman sendiri. Ia seoarang jiwanmukta atau seorang bijak yang bebas. Mulialah tokoh pujaan seperti itu yang merupakan Tuhan yang hidup di dunia.

Catur Purusa Artha : 4 dasar tujuan hidup manusia

Catur Purusa Artha adalah “empat kekuatan atau dasar kehidupan menuju kebahagiaan”, yaitu : Dharma, Arta, Kama, dan Moksa. Urut-urutan ini merupakan tahapan-tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada arta yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui arta, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, arta, dan kama.

Bagian-bagian Catur Purusa Artha

Dharma Dharma sebagai dasar utama mempunyai pengertian yang sangat luas. Dharma dapat diartikan sebagai mematuhi semua ajaran-ajaran Agama terlihat dari pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari. Dharma juga dapat diartikan sebagai memenuhi kewajiban sesuai dengan profesi atau pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing. Misalnya dalam Manawa Dharmasastra Buku III (Tritiyo dhyayah) diatur tentang kewajiban seorang suami dan kewajiban seorang istri dalam membina rumah tangga, dimana antara lain dinyatakan bahwa seorang suami berkewajiban mencari nafkah bagi kehidupan keluarganya,sedangkan seorang istri berkewajibanengatur rumah tangga seperti merawat anak, suami, menyiapkan upacara, dll. Dalam kaitan implementasi profesi dan tanggung jawab (responsibility), sering digunakan istilah “swadharma”, sehingga swadharma setiap manusia berbeda-beda menurut tugas pokoknya. Misalnya swadharma seorang dokter adalah merawat pasien sebaik-baiknya agar sembuh, swadharma seorang cleaning service adalah menjaga kebersihan dan kerapian ruangan, dll. Jadi melaksanakan dharma itulah yang utama. Setelah melaksanakan dharma dengan baik maka Hyang Widhi akan melimpahkan berkatnya berupa Arta.

Artha Artha adalah sesuatu yang bernilai materiil yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara phisik. Arta dapat diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Arta yang diperoleh secara langsung misalnya seseorang yang swadharmanya sebagai petani pemelihara lembu maka ia akan menikmati susu lembu itu. Arta yang diperoleh secara tidak langsung misalnya seorang Ayah yang tekun mendidik anaknya sejak kecil dengan baik sehingga dikemudian hari anaknya menjadi tokoh yang kaya dan terhormat, maka anaknya dapat merawat khidupan ayahnya dimasa tua dengan baik dan berkecukupan. Arta yang cukup dapat digunakan untuk memenuhi Kama.

Kama Kama artinya kebutuhan hidup berupa pangan, sandang, perumahan, sosial, spiritual, kesehatan, dan pendidikan. Makin banyak arta yang diperoleh maka manusia makin leluasa memenuhi kama. Apabila dharma, arta dan kama sudah dicukupi dengan baik maka tercapailah kehidupan yang bahagia lahir dan bathin yang lazim disebut sebagai “Moksartham Jagadhitaya caiti dharmah” Pakar psycholog barat seperti Sperman dan Reven (1939) menamakan kehidupan seperti itu “Living Healthy” dimana unsur-unsur : Spiritual, Emotional, Intelectual, Phisical dan Social, dipelihara dan terpenuhi dengan baik. Bagaimanakah jika urut-urutan Catur Purushaarta itu ditukar balik, misalnya mendahulukan arta dari dharma ? Dalam keadaan ini manusia akan menempuhsegala cara untuk memperoleh arta, artinya tidak lagi berdasarkan ajaran Agama. Misalnya memperoleh ara dengan cara mencuri, menipu, merampok, korupsi, dll. Arta yang diperoleh dengan cara ini (adharma) tidak akan kekal dan akan menyengsarakan hidup dikemudian hari. Kesengsaraan itu bermacam-macam berbentuk “skala” dan “niskala” Yang berbentuk skala misalnya seorang perampok yang tertangkap akhirnya masuk penjara. Kesengsaraan niskala, misalnya seorang koruptor karena kepandaiannya berkomplot dan berkuasa, mungkin saja ia terhindar dari hukuman duniawi, tetapi kelak roh-nya akan mengalami penderitaan karena menerima hukuman Tuhan (Hyang Widhi), atau paling tidak bathinnya tidak tenang, karena merasa berdosa.

Moksa Menurut kitab-kitab Upanisad, moksa adalah keadaan atma yang bebas dari segala bentuk ikatan dan bebas dari samsara. Yang dimaksud dengan atma adalah roh, jiwa. Sedangkan hal-hal yang termasuk ikatan yaitu pengaruh panca indria, pikiran yang sempit, ke-akuan, ketidak sadaran pada hakekat Brahman-Atman, cinta   kasih   selain   kepada Hyang Widhi,   rasa   benci, keinginan, kegembiraan, kesedihan, kekhawatiran/ketakutan, dan khayalan. Moksa dapat dicapai oleh seseorang baik selama ia masih hidup (disebut : Jivam Mukta), maupun setelah meninggal dunia (disebut : Videha Mukta). Jika selama masih hidup seseorang itu mencapai moksa maka ia telah mencapai tingkat moral yang tertinggi, kehidupannya sempurna (krtakrtya), penuh dengan kesenangan (atmarati) karena terbebas dari 11 jenis ikatan yang disebutkan diatas, memandang dirinya ada pada semua mahluk (eka-atma-darsana), memandang dirinya ada pada alam semesta (sarva-atma-bhava-darsana). Kesenangan juga tercapai karena pengetahuan dan kesadaran bahwa brahman-lah atman yang ada didirinya (brahmanbhavana). Jika moksa dicapai setelah meninggal dunia maka terjadilah proses menyatunya atman dengan brahman sehingga atman tidak lahir kembali sebagai mahluk apapun atau bebas dari samsara, disebut juga sebagai kedamaian abadi (sasvatisanti).

Moksa adalah tujuan hidup manusia yang tertinggi yang dapat dicapai oleh setiap manusia bila ia :

  • Mampu membebaskan atman dari ikatan.
  • Mempunyai pengetahuan utama (paravidya) tentang brahman.
  • Melaksanakan disiplin kehidupan yang suci.

Oleh karena itu moksa juga dikatakan sebagai pahala yang tertinggi dari Hyang Widhi atas karma manusia utama, suatu anugerah yang maha mulia.

Ada kutipan Svetasvatara Upanisad I.6 yang sangat indah :

Sarvajive sarvasamsthe brhante asmis, hamso bhramyate brahmacakre, prthag atmanam pretitaram ca justas, tatas tenamrtatwam eti.

Artinya :

Dalam roda Brahman yang maha besar dan maha luas, didalamnya segala sesuatu hidup dan beristirahat, sang Angsa mengepak-epakkan sayapnya dalam melakukan perjalanan sucinya. Sejauh dia berpikir bahwa dirinya berbeda dengan Sang Maha Penggerak maka ia dalam keadaan tidak abadi. Apabila dia diberkahi oleh Hyang Widhi maka ia mencapai kebahagiaan sejati dan abadi.

Makna dari sloka upanisad di atas yakni sekalipun anda telah melaksanakan disiplin kehidupan suci dan membebaskan atman dari ikatan-ikatan, namun bila anda tidak menyadarkan atman bahwa Brahmanlah atman, maka anda belum mencapai moksa

Catur Warna

Kata Catur Warna berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata ”Catur” berarti empat dan kata “warna” yang berasal dari urat kata Wr (baca: wri) artinya memilih. “Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan”

Pebagian Catur Warna

  • Warna Brahmana. Disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan.
  • Warna Ksatrya. Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.
  • Warna Wesya. Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain).
  • Warna Sudra. Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.

Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Warna cenderung membaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau Turunan darah. Pada hal Catur Warna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan darah.

Catur Guru

Catur Guru terdiri dari dua kata yaitu: Catur artinya empat dan Guru artinya guru. Catur Guru adalah “empat guru yang harus kita hormati”

Bagian Catur Warna

Guru Swadhyaya | kita wajib selalu hormat dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Guru Swadyaya disebut pula guru sejati. Dinamakan guru sejati karena Beliau adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliaulah yang telah menciptakan alam semesta dengan segenap isinya ini, kemudian memelihara dan melindunginya dan akhirnya juga melebur atau mengembalikan ke dalam bentuk asalnya. Dinyatakan sebagai guru karena Tuhan adalah pembimbing utama bagi umat manusia yang tidak ada bandingannya. Beliau Mahatau, beliau juga Mahakuasa, dan Mahasakti. Karena itu sebagai manusia kita perlu mewujudkan rasa bhakti kita kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tulus ihklas. Cara mewujudkan rasa bhakti kepada Guru Swadyaya itu antara lain dengan: Selalu ingat kepada-Nya, Ngayah di Pura, Melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi. Menjaga kesucian pura, Mempelajari kitab suci Weda, Medana punia dan lain-lain. melakukan persembahyangan (Tri Sandhya) Dan masih banyak lagi

Guru Rupaka | orang tua seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orang tua atau Ibu Bapak kita dirumah, sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan kepada kita. Manusia tumbuh dan berkembang adalah berkat pendidikan dan asuhan orang tuanya. Karena itu anak-anak harus menghargai orang tuanya. Rasa bhakti kepada Guru Rupaka dapat diwujudkan antara lain dengan: Menjunjung tinggi kehormatan keluarga, Membantu dan memperhatikan kesehatan orang tua jika sedang sakit, Melaksanakan upacara Pitra Yadya sebagaimana mestinya. Mengikuti dan melaksanakan nasehat orang tua, Membantu orang tua dalam melaksanakan tugas pekerjaannya,

Guru Pengajian | inilah suatu bangsa kedepan ditumpukan. Guru pengajian atau Guru Waktra adalah guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita di sekolah. Guru di sekolah memberikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, sehingga murid menjadi pandai dan terhindar dari kebodohan berarti lenyaplah penderitaan. Karena murid-murid harus menghargai dan menghormati gurunya. Murid-murid pun dapat mewujudkan rasa bhaktinya kepada Guru Pengajian antara lain dengan: Mentaati tata tertib sekolah, Rajin belajar, Selalu berbudi luhur. Tidak mencaci maki guru, Menjaga nama baik guru dan sekolah, Selalu mengingat guru, meskipun sudah tidak menjadi muridnya lagi, Tidak menantang guru, Menyapa dan memberi hormat kepada guru, Melaksanakan semua nasihat dan ajarannya,

Guru Wisesa | pemerintah seyogyanya dapat menjadi inspirator.Guru wisesa adalah Pemerintah yang selalu berusaha mendidik dan mengayomi rakyatnya, selalu mensehjaterakan dan memberikan perlindungan. Karena itu pemerintah harus selalu dihormati dan dihargai. Kita perlu mewujudkan rasa bhakti kita kepada Pemerintah antara lain dengan cara: Menghargai dan menghormati para pahlawan bangsa, Memelihara dan menjaga harta benda milik pemerintah, Memelihara hasil-hasil pembangunan bangsa, Bangga menjadi bangsa indonesia Rajin membayar pajak, Cinta tanah air negara dan bangsa, Mentaati semua ketentuan Pemerintah, Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila, Selalu menghormati aparatur Pemerintah yang bersih dan jujur, Berpartisipasi dalam mengamankan negara, Berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan,

Catur guru sebagai pedoman dalam guru susrusa ini yang bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian batin berupa dharma dan moksa dengan mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat guru khususnya pada catur guru yang sangat mulia, terhormat, tersayang, agung dan sangat kuasa.

Upacara- Yadnya

Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.

Pedoman melakukan Yadnya harus terkandung nilai- nilai:

  • Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
  • Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
  • Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).

Pembagian Yadnya

Menurut tingkat pelaksanaannya

Menurut BG XVII, 11, 12, dan 13 menyebutkan ada tiga tingkatan yadnya dilihat dari segi kualitasnya. Tiga yajna itu antara lain:

Satwika yajna : yaitu yajna yang dilakukan sesuai dengan kitab-kitab suci, dilakukan tanpa mengharaf pahala, dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai tugas dan kewajiban.

Tamasika yajna yaitu yajna yang dilakukan dengan mengharapkan ganjaran / hasil dan semata-mata untuk kemegahan atau prestise.

Rajasika yajna yaitu yajna yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan), makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra, sedekah dan keyakinan.

Menurut jenisnya (panca yadnya)

Bagian-bagian dari Panca Yadnya

Dewa yadnya : Kurban suci yang dilakukan secara tulus iklas yang ditujukan kepada Tuhan

Bhuta yadnya : kepada para Butha

Pitra yadnya : kepada para pitara / leluhur

Rsi yadnya : kepada para orang suci

Manusa yadnya : kepada Tuhan untuk keselamatan manusia dan juga kepada manusia secara langsung.

Menurut waktu pelaksanaannya

Terkait dengan waktu melaksanakan Yajna, maka Yajna dapat dibedakan atas 3 bagian, yaitu:

Nitya Yajna

Nitya yajna adalah Yajna yang dilaksanakan setiap hari. Contoh pelaksanaan Yajna yang dilakukan sehari-hari adalah Tri Sandhya, Yadnya sesa dan Jnana Yajna.

Tri Sandhya

Tri Sandhya, merupakan bentuk Yajna yang dilaksnakan setiap hari dengan kurun waktu pagi hari, siang hari dan sore hari. Pelaksanaan dari Tri Sandhya adalah untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas segala anugerah yang telah dilimpahkan-Nya.

Yadnya Sesa

Yadnya Sesa, juga disebut dengan masaiban atau ngejot. Merupakan Yajna yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta dengan segala manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Yadnya sesa dilakukan dengan tujuan untuk mengucapkan rasa terima kasih dan syukur atas segala anugerah yang diberikan.

Adapun petikan sloka yang terkait dengan pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:

“Yajna-ssstasinah santo mucyantesarva-kilbisaih,

Bhunjate te tv agham papa pacanty atma-karanat.”

Artinya:

“Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa, Karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang hanya menyiapkan makanan untuk menikmati indriya-indriya pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”

Makna dari pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:

  • Mengucapkan rasa terima kasih dan syukur kepada Tuhan
  • Belajar dan berlatih dalam pengendalian diri
  • Melatih sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri

Selanjutnya dalam pelaksanaan yadnya sesa terdapat tempat-tempat tertentu untuk mempersembahkan banten saiban tersebut, yaitu:

  • Di halaman rumah, dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi
  • Di tempat air, dipersembahkan kepada Dewa Wisnu
  • Di kompor atau tungku, dipersembahkan kepada Dewa Brahma

Di pelangkiran, di atap rumah, yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Akasa dan Ether

  • Di tempat beras
  • Di tempat saluran air (sombah)
  • Di tempat menumbuk padi
  • Di pintu keluar pekarangan (Lebuh)

Naimittika Yajna

Naimittika yajna merupakan yajna yang dilakukan secara berkala dan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal. Pelaksanaan Naimittika yajna menggunakan suatu perhitungan tertentu dengan dasar perhitungannya adalah sebagai beriktu:

Berdasarkan perhitungan wara. Perhitungan wara adalah perhitungan yang menggunakan perpaduan antara Tri wara dengan panca wara.

Contohnya: Kajeng kliwon.

  • Menggunakan perpaduan antara Sapta wara dengan panca wara,
  • Contohnya: Buda wage, Buda kliwon, anggara kasih dan sebagainya.

Berdasarkan perhitungan Wuku, adalah pelaksanaan yajna yang dilakukan dengan memperhitungan pawukon. Contohnya : Galungan, Pagerwesi, Saraswati, Kuningan.

Berdasarkan atas perhitungan Sasih. Contohnya: Puranama, tilem, Nyepi, Siwaratri.

Insidental

adalah Yajna yang dilaksanakan didasarkan atas adanya peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu tidak terjadwal, namun dipandang perlu untuk dilaksanakan dan dibuatkan upacara persembahan. Melaksanakan Yadnya insidental adalah dilakukan sesuai dengan kemampuan, keadaan dan situasi. Dengan menyesuaikan tersebut maka Yajna dapat dilakukan sesuai dengan kwantitasnya yaitu Kanista, Madya, dan Mautama yang masing-masing memiliki 3 bagian sehingga tingkatan yajna sesuai dengan kwantitasnya berjumlah 9 tingkatan.

Menurut cara menjalankannya (panca marga yadnya)

Drewya Yadnya.

Adalah suatu korban suci secara ikhlas dengan menggunakan barang- barang yang dimiliki kepada orang lain pada waktu, tempat, dan alamat yang tepat, demi kepentingan dan kesejahteraan bersama, masyarakat, Negara dan Bangsa.

Pada umumnya Drewya Yadnya ini ditujukan kepada:

  • Orang sakit.
  • Orang yang menuntut ilmu.
  • Anak- anak yatim- piatu.
  • Para tamu.
  • Para Pendeta.
  • Keluarga yang menderita karena ditinggal tugas.

Tapa Yadnya.

Yaitu suatu korban suci dengan jalan bertapa, sebagai jalan peneguhan iman di dalam menghadapi segala jenis godaan agar memiliki ketahanan di dalam perjuangan hidup serta menyukseskan suatu cita- cita luhur.

Suatu kegiatan Tapa jika dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghindarkan diri dari berbagai kewajiban dalam kehidupan ini, tidak dapat kita katakan sebagai Tapa Yadnya.

Tapa Yadnya justru dilaksanakan demi menegakkan dharma, sehingga kekuatannya akan menelurkan adanya ketenangan, ketentraman, serta kebahagiaan, baik bagi pelakunya maupun bagi masyarakat banyak. Tapa Yadnya termasuk Yadnya yang sangat berat, akan tetapi sangat mulia dan tinggi nilainya dari sudut spiritual.

Apabila diyakini pelaksanaannya maka akan dicapai apa yang disebut “SATYAM EVA JAYATE” yang berarti hanya kebenaran yang menang pada akhirnya.

Swadyaya Yadnya.

Adalah suatu korban suci yang menggunakan sarana “diri sendiri” sebagai kurbannya (Sadhana), yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas karena terdorong oleh perasaan kasih sayang yang sangat mendalam, umpamanya berupa berbagai jenis organ tubuh, seperti daging, darah, tenaga, pikiran, mata, jantung, dan sebagainya.

Swadyaya Yadnya dilaksanakan benar- benar demi:

  • Rasa cinta kasih yang sejati.
  • Rasa tanggung jawab yang sangat besar.
  • Panggilan rasa kemanusiaan.
  • Rasa bakti karena panggilan jiwa.

Demikian besar pengorbanan yang dituntut bagi pelaksanaan Swadyaya Yadnya sehingga menjadikan pelakunya sebagai manusia yang luar biasa. Para anggota ABRI yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara, para penerima hadiah Nobel untuk perdamaian dan kemanusiaan dapat digolongkan sebagai pelaksana- pelaksana dari Swadyaya Yadnya.

Yoga Yadnya.

Adalah suatu korban suci dengan cara menghubungkan diri (menyatukan cipta, rasa, dan karsa) ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa yang sifatnya sangat mendalam, sehingga si pelaksana (Yogin) tersebut benar- benar merasakan bersatu serta manunggal dengan- Nya, mencapai alam kesucian atau Moksa. Tetapi tidaklah semudah sebagaimana yang telah diajarkan serta diuraikan di dalam berbagai Sastra Yoga yang ada, melainkan ada beberapa bekal minimal di dalam rangka melaksanakan Yoga Yadnya, seperti umpamanya:

Ilmu pengetahuan tentang berbagai selukbeluk Yoga (sastra- sastra Yoga mulai dari Yoga Asanas, Hatta Yoga, Kundalini Yoga, Raja Yoga, dan sebagainya).

Adanya kesanggupan dan kemampuan serta keberanian di dalam melaksanakan Yoga Yadnya itu. Keyakinan, kesanggupan, serta kemampuan melaksanakan “Tri Kaya Parisudha” yaitu berpikir, berbicara, serta berbuat suci dan benar.

Suci lahir dan batin serta mengenal berbagai ilmu mengenai jalan menuju Moksa. Mengerti serta mengetahui bagaimana caranya untuk mencapai Moksa.

Meyakini ajaran Panca Sradha.

Jnana Yadnya.

Jnana Yadnya berarti korban suci yang menyeluruh, yang berintikan dasar pengetahuan dan kesucian.

Para Maha Resi terdahulu telah sanggup melaksanakan korban suci Jnana Yadnya ini, karena kesanggupan dan kemampuan beliau mengolah pikiran dengan ilmu pengetahuan kesuciannya itu sehingga mampu untuk menerima wahyu dari Sang Hyang Widhi Wasa, yang dipergunakan oleh umat manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan material dan spiritual dalam usaha mencapai kebahagiaan di dunia (jagadhita) dan kedamaian abadi di akhirat (Moksa).

Di antara para Maha Resi Hindu yang telah berhasil di dalam melaksanakan Jnana Yadnya ini antara lain:

Bhagawan Abhyasa, sebagai Maha Resi penerima wahyu yang telah mengkodifikasikan CATUR WEDA (Catur Weda Sruti).

Bhagawan Wararuci, sebagai Maha Resi yang telah menyusun sari pati dari Astha Dasa Parwa (Mahabarata) diwujudkan dalam kitab Sarasamuçcaya.

Sang Krishna, Sang Rama Dewa

Kesemuanya adalah pelaksana Jnana Yadnya yang telah mencapai kedudukan tertinggi di antara umat manusia pada jamannya maupun pada jaman- jaman berikutnya sampai sekarang.