Dewa Yama

YAMA – DEWA KEMATIAN

Nama Lain : Kala, Dharma, Yamaraja, Dharmaraja Yama.Arti Nama : Kembar / Kematian (Yama), Waktu (Kala), Kebajikan / Keadilan (Dharma), Raja Yama (Yamaraja), Raja Atas Kebajikan (Dharmaraja).
Ras : Manusia => Dewa
Golongan : Aditya, Lokapala.
Senjata : Danda (tongkat pemukul) dan Rantai atau Jerat
Wahana : Kerbau betina
Pasangan : Yami atau Yamuna atau Syamala, dan Kunti
Kediaman : Naraka / Yamadipa
Pengikut : Yamabala / Kingkara
Peran : Dewa Kematian, Pengantar Jiwa Orang-Orang Mati, Hakim Para Jiwa.
Anak : Yudhistira
Awatara : Mahakala dan (Arya) Widura

“Tiap orang pergi menghadap Batara Yama, namun mereka masih berusaha untuk hidup selama-lamanya.”
(Yudhistira)

  • Dalam Asta Brata, terdapat unsur Yama Brata, teladan dari Yama. Di mana seorang raja hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama : berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
  • Yama pernah sekali memberikan kompensasi perpanjangan masa hidup berdasarkan keinginannya sendiri. Ia melakukan itu kepada seorang wanita bernama Sawitri, yang bisa melihat wujudnya saat mengambil nyawa suaminya : Satyawan. Sawitri terus mengikuti Yama yang membawa Satyawan meskipun Yama sudah menyeberang ke alam kematian. Kagum akan kesetiaan Sawitri, Yama memberikan perpanjangan umur kepada Satyawan dan pada saat masa hidup Satyawan habis untuk kedua kalinya, Yama menjemput sendiri pasangan suami-istri itu.
  • Meskipun merupakan Aditya paling muda, Putra Yama dengan Kunti adalah yang tertua di antara Pandawa.
  • Yama dan Adipati Karna adalah saudara satu ayah.
  • Yama tidak mengurusi orang yang mati tenggelam. Urusan mengantar jiwa orang-orang seperti itu diurus oleh Baruna.
  • Konon siapapun yang dipandang lekat-lekat oleh kedua pasang mata Yama, ajalnya sudah dekat.
  • Yama punya dua ekor anjing pengawal bermata empat.
  • Mahakala, awatara lain Yama selain Widura, juga merupakan nama salah satu awatara Siwa.

ASAL MULA
Sama seperti dewa-dewa lainnya, Yama punya beberapa versi asal-usul. Versi yang paling terkenal mengatakan ia adalah putra Batara Surya – yang menjadikannya saudara tiri dari Adipati Karna, dengan Ushas – dewi fajar. Ia adalah saudara kandung dari Waiwaswata Manu (Manu yang diselamatkan oleh Matsya Awatara dari air bah.

Sama seperti Manu Vaivasvatha, Yama tidak terlahir sebagai dewa. Ia terlahir sebagai manusia namun usianya tidak sepanjang saudaranya. Yama tidak diasuh oleh ibu kandungnya. Ia diasuh oleh ibu tirinya yang bernama Caya, namun karena merasa Caya lebih memperhatikan anak kandungnya sendiri daripada anak-anak tirinya, Yama suatu saat menendang kakinya. Hal itu membuatnya dikutuk bahwa kakinya akan digerogoti oleh cacing. Cacing-cacing tersebut juga akan menyebabkan kakinya bernanah dan berdarah.

Untuk mengurangi kutukan tersebut, Surya memberikan seekor burung kepada Yama untuk memakan cacing-cacing tersebut. Kemudian Yama memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat suci yang bernama Gokarna. Disana ia memuja Siwa dengan cara bertapa selama ribuan tahun. Siwa berkenan dengan tapa yang dilakukan Yama, lalu ia diangkat sebagai dewa kematian. Ia diberi hak untuk menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang melakukan dosa, dan memberikan berkah kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.

Prosesnya menjadi dewa diawali dengan kematian. Yama menjadi manusia pertama yang mati. Jiwanya kemudian mengembara dan menjadi jiwa pertama yang menemukan jalan ke kehidupan setelah mati.

Versi lain menyebutkan bahwa Yama adalah Aditya generasi pertama. Jadi ia bersaudara kandung dengan Surya, Agni, Indra, Bayu, dan Baruna.

Baca juga:

TUGAS DAN PERAN
“Bhatara Dharma (yang juga) bergelar Bhatara Yama (Dewa Keadilan), adalah pelindung keadilan yang mengamat-amati (mengadili) baik-buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari (karma) itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.”
(Agastya Parwa, 355.15)

Pasca menetap di Naraka – dunia orang mati – dan menjadi penguasa di sana, Yama bertugas membimbing setiap jiwa yang mati ke Naraka atau Neraka. Tugasnya adalah membimbing jiwa-jiwa untuk diadili kemudian ia akan mengadili mereka dan akan memutuskan akan membawa jiwa mereka ke Swargaloka, tetap tinggal di Naraka untuk beberapa saat, atau langsung memasukkan jiwa tersebut ke dalam siklus reinkarnasi.

Kala jumlah manusia makin banyak, tugas menjemput jiwa-jiwa itu Yama bagikan kepada para Yamabala atau Kingkara – kelompok makhluk seram yang menghuni neraka. Untuk orang-orang tertentu (biasanya orang yang hidup sesuai jalan dharma) Yama masih menjemput sendiri jiwa-jiwa mereka. Yang lain akan dijemput Yamabala untuk dibawa kepada Yama guna diadili.

Kadang proses peradilan jiwa-jiwa ini tidak ditangani oleh Yama sendiri. Sama seperti Hades dalam mitologi Yunani yang punya asisten bernama Thanatos, Yama juga punya asisten yakni Citragupta. Citragupta berbagi tugas dengan Yama untuk mengadili jiwa-jiwa yang dibawa ke Naraka.

Kesibukan Yama yang lain adalah sebagai Lokapala. Ia menjaga arah selatan. Meski merupakan Lokapala yang ada di bawah komando Indra, Yama konon punya kekuatan yang jauh lebih menyeramkan daripada Indra. Yama adalah satu-satunya dewa yang tidak pernah takluk kepada Asura-Asura yang menaklukkan kahyangan seperti Rahwana, Takasur, dan Hiranyakasipu.

DALAM RAMAYANA
Yama disebutkan mendatangi Rama pasca Rama kembali menjadi Raja di Ayodhya. Ia hendak bicara empat mata dengan Rama dan meminta Rama untuk tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruangan tempat mereka berbincang. Jika ada yang sampai masuk, Rama harus membunuh orang tersebut. Laksmana kemudian disuruh Rama berjaga di depan ruangan. Sayangnya ada brahmana perusak suasana dan pembuat onar sekaligus salah satu Awatara Siwa bernama Durwasa yang mendatangi istana Rama dan hendak bertemu dengan Rama saat itu juga.

Laksmana berusaha membujuk Durwasa untuk menunggu sejenak tapi Durwasa tidak mau terima alasan. Ia harus bertemu Rama sekarang atau dia akan mengutuk seluruh rakyat Ayodhya dengan kutukan yang tidak mengenakkan. Laksmana akhirnya nekat masuk ke dalam ruangan dan Rama jadi terpaksa membunuh Laksmana.

Namun karena tidak tega membunuh Laksmana, Rama akhirnya memutus hubungan persaudaraan dengan Laksmana. Laksmana diusir dari Ayodhya dan sampai akhir hayatnya Laksmana tidak pernah bertemu dengan Rama lagi.

MAHABHARATA
“Tanpa perlu disangsikan lagi, o Putraku, semua raja-raja, harus pernah melihat Neraka.”
(Yama)

Dalam Mahabharata, Yama muncul dalam kisah kelahiran Pandawa di mana ia menjadi ayah dari Yudhistira. Ia juga muncul di kisah tahun keduabelas pembuangan Pandawa.

Pada saat itu Pandawa sedang sibuk berpikir serius untuk mencari jalan keluar bagaimana cara mereka akan melakukan pengasingan di tahun ketigabelas tanpa harus dketahui oleh siapapun. Dalam kesibukannya memikirkan hal tersebut, suatu hari datanglah seorang brahmana tua meminta bantuan pada mereka karena seekor menjangan telah melarikan tempat api pemujaannya.

Kejadian itu bermula ketika seekor menjangan datang ke dekat pedupaan di tempat api pemujaan. Mungkin karena gatal atau karena kedinginan ia menggosokan badannya di sana. Ketika sang brahmana datang untuk menghalaunya, menjangan itu kaget sehingga pedupaan tersangkut di tanduk menjangan dan dibawa lari.

“Ya Tuhan, menjangan itu telah membawa lari pedupaanku. Bagaimana aku bisa melakukan upacara persembahyangan sehari-hari? Wahai Pandawa, tolonglah aku yang tidak dapat mengejar menjangan itu”, demikian permintaan brahmana tersebut pada Yudhisthira.

Pandawa kemudian memburu menjangan itu beramai-ramai dari berbagai penjuru, tapi rupanya manjangan itu bukan sembarang menjanga. Ia terus berlari, dan tanpa disadari Pandawa ternyata telah terbawa masuk jauh ke dalam hutan. Menjangan itu hilang ditelan rimba raya. Pandawa yang merasa lelah, terpaksa berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang amat rindang. Nakula mengeluh, “Alangkah merosotnya keadaan kita sekarang. Menolong brahmana dalam kesulitan sekecil ini saja kita tidak mampu, apalagi yang lebih besar”.

“Benar demikian. Ketika Drupadi diseret ke persidangan, seharusnya kita bunuh manusia kurang aja itu (maksudnya adalah Dursasana)! Tapi apa? Kita tidak berbuat apa-apa. Dan sekarang, inilah akibatnya”, kata Bima sambil memandang Arjuna.

Dengan sikap mengiyakan, Arjuna berkata, “Ya benar, aku juga tidak berbuat apa-apa ketika dihina oleh anak kereta kuda itu (maksudnya adalah Karna). Inilah upahnya sekarang!” Yudisthira menyadari kesedihan yang meliputi hati saudara-saudaranya dan melihat wajah-wajah mereka yang nampak kehilangan kegembiraan dan merosotnya semangat juang mereka. Untuk mengalihkan pikiran, ia berkata pada Nakula, “Adikku, cobalah engkau naik pohon, dan lihat, barangkali di dekat-dekat sini ada sungai atau telaga. Aku merasa sangat haus”.

Nakula kemudian naik ke pohon tinggi, dan setelah melihat sekeliling, dari atas ia berkata, “Di kejauhan kulihat ada tanda-tanda air dan beberapa ekor burung bangau. Di sana pasti ada air!”.

Yudhisthira menyuruhnya turun dan pergi untuk mengambil air. Nakula lantas pergi dan memang menemukan sebuah telaga. Karena ia sendiri juga sangat haus, ia berpikir untuk minum dulu sebelum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia hendak memasukan tangannya ke dalam air, tiba-tiba terdengar suara, “Janganlah engkau tergesa-gesa. Telaga ini milikku, hai anak Madri Dewi. Jawablah pertanyaanku terlebih dahulu pertanyaanku, Jika kau bisa menjawab, barulah kau boleh minum”.

Nakula sangat terkejut mendengar suara itu, tetapi karena saking hausnya, ia tidak memperdulikannya dengan niat menjawab pertanyan itu setelah minum. Ia langsung mencelupkan tangannya, mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia jatuh tidak sadarkan diri. Setelah lama menunggu dan Nakula belum juga kembali, Yudhisthira yang gelisah kemudian menyuruh Sadewa mencari tahu apa sebab Nakula belum kembali. Setelah mencari-cari beberapa lama, Sadewa terkejut melihat Nakula yang terbaring tak sadarkan diri di tepi telaga. Tetapi karena merasa sangat haus, ia memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara tadi terdengar lagi, “Wahai Sadewa, telaga ini telagaku. Jawab dulu pertanyaanku, baru engkau boleh menghilangkan dahagamu”. Sadewa tidak peduli dan langsung meminum air telaga itu. Sesaat setelah ia minum, saat itu pula ia tersungkur tidak sadarkan diri.

Bingung memikirkan kedua saudaranya yang belum kembali, Yudhisthira menyuruh Arjuna mencari Nakula dan Sadewa. “Tetapi jangan lupa untuk kembali membawa air”, ia mengakhiri katanya kepada Arjuna, karena kini ia betul-betul merasa haus. Arjuna pergi berlari dan menemukan kedua saudaranya terbaring tak sadarkan diri. Ia sangat terkejut dan mengira mereka tewas dianiaya musuh. Ia marah dan ingin membalas dendam, menghancurkan siapapun yang telah membunuh saudara-saudaranya. Sambil merencanakan pembalasan dendam itu, Arjuna ingin minum terlebih dahulu. Tapi lagi-lagi suara tadi terdengar lagi, “Jawab dulu pertanyaanku, sebelum engkau minum air telaga ini. Telaga ini punyaku. Kalau engkau tidak mau menurut, engkau akan mengalami nasib yang sama dengan kedua saudaramu”.

Arjuna sangat marah mendengar suara itu dan berteriak, “Hai, siapa engkau? Ayo muncul di hadapanku! Kubunuh kau!”. Sambil berkata demikian, Arjuna membidikan panahnya ke arah datangnya suara itu. Suara itu tertawa mengejek, “Panahmu hanya akan melukai angin. Jawab pertanyaanku dulu, baru kau boleh memuaskan dahagamu. Bila engkau minum tanpa menjawab pertanyaanku, engkau akan tewas”. Arjuna girang karena bisa berhadapan dengan pembunuh adik-adiknya, tapi sebelum itu ia ingin minum dulu. Apa lacur, setelah minum ia pun rebah ke tanah tidak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Arjuna belum juga kembali, Yudhisthira lantas berkata, “Bimasena saudaraku, Arjuna pahlawan kita belum juga datang. Sesuatu yang aneh mungkin terjadi. Peruntungan bintang-bintang kita hari ini memang terlihat kurang baik. Carilah mereka dan bawakan air untukku. Aku haus sekali”.

Begitu mendapat perintah dari Yudhisthira, Bima segera berangkat. Sampai di tepi telaga, bukan main sedih hatinya melihat ketiga saudaranya terbaring tidak berkutik. “Ini pasti perbuatan para jin dan raksasa jahat”, pikirnya. “Akan kumusnahkan mereka ! Tetapi aku sangat haus. Setelah minum, akan kutamatkan pembunuh itu”. Lalu ia turun ke tepi telaga. Suara aneh itu terdengar kembali, “Hati-hatilah, hai Bimasena. Engkau boleh minum setelah menjawab pertanyaanku. Kamu akan tewas jika tidak mau mendengar kata-kataku”. Mendengar itu Bima berteriak, “Siapa engkau? Berani benar memerintah aku!”. Lalu ia minum air telaga itu. Seketika itu juga otot dan tulang Bima yang liat bagai kawat baja dan keras bagai besi perkasa menjadi lemas, dan ia pun seperti sudara-saudaranya, jatuh terbaring tidak sadarkan diri.

Yudhisthira menunggu dengan cemas. Dahaganya serasa tak tertahankan. Terbayang dalam pikirannya, “Apakah mungkin mereka terkena kutukan? Apakah mereka lenyap ditelan rimba dan tak tahu jalan kembali? Apakah mereka tewas karena kehausan?”. Kemudian Yudhisthira bangkit tak habis pikir dan berjalan mengikuti jejak-jejak kaki saudara-saudaranya. Ia memperhatikan setiap semak yang dilaluinya dengan teliti. Ia melihat jejak kijang dan babi hutan, semuanya menuju arah yang sama. Burung-burung bangau dan sebangsanya mulai kelihatan, pertanda adanya air di dekat situ.

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke lapangan rumput hijau terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin muka yang indah cemerlang. Dan disanalah diketemuinya keempat saudaranya terbaring dingin, tidak bergerak lagi. Dihampirinya satu persatu, dirabanya kaki, tangan, dahi dan denyut jantung mereka. Yudhisthira berkata dalam hati, “Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata telah meninggalkan kita dari kesengsaraan ini”.

Menatap wajah Nakula dan Sadewa, yang di tadinya merupakan pemuda lincah perkasa, kini lemas, dingin terbaring tidak bergerak, hatinya berkata lagi, “Apakah hatiku harus terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati? Untuk apa aku hidup? Aku yakin ini bukan peristiwa biasa”, pikir Yudhisthira. Ia tahu, tak seorang ksatriapun akan mampu membunuh Bima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat. “Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai”. Hatinya terus bertanya-tanya. “Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib. Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana ? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini ?”.

Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, “Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu. Telaga ini milikku”. Yudhisthira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya mati. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhisthira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu, “Silahkan ajukan pertanyanmu” dan suara gaib itu mulai mengajukan pertanyaan kepada Yudhisthira.

Suara Gaib : “Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?”
Yudhisthira : “Kekuatan Brahman”
Suara Gaib : “Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?
Yudhisthira : “Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya”
Suara Gaib : “Dengan jalan mempelajari ilmu apakah manusia menjadi bijaksana?”
Yudhisthira : “Bukan dengan jalan mempelajari kitab suci orang menjadi bijaksana, tapi dengan jalan bergaul dan bersatu dengan cendikiawan besar ia menjadi bijaksana”
Suara Gaib : “Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini ?”
Yudhisthira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini”.
Suara Gaib : “Apa yang lebih tinggi dari langit ?”
Yudhisthira : “Bapa”
Suara Gaib : “Apa yang lebih kencang dari angin ?”
Yudhisthira : “Pikiran”
Suara Gaib : “Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas ?”
Yudhisthira : “Hati yang menderita duka dan menyimpan dendam”
Suara Gaib: “Apa yang menjadi teman seorang pengembara?”
Yudhisthira : “Kemauan belajar”
Suara Gaib : “Siapakah teman seseorang yang tinggal di rumah?”
Yudhisthira : “Istri”
Suara Gaib : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”
Yudhisthira : “Dharma, hanya dharma yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian”
Suara Gaib : “Perahu apa yang terbesar?”
Yudhisthira : “Bumi ini, yang mengandung segala sesuatu yang ada padanya, adalah perahu yang terbesar”
Suara Gaib : “Apakah kebahagiaan itu ?”
Yudhisthira : “Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik”
Suara Gaib : “Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya ?”
Yudhisthira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya”
Suara Gaib : “Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih ?”
Yudhisthira : “Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan”
Suara Gaib : “Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya ?”
Yudhisthira : “Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya”
Suara Gaib: “Apakah yang membuat seseorang benar-benar menjadi brahmana? Kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan yang sempurna? Jawab dengan tegas!”
Yudhisthira :“Kelahiran dan pendidikan baik tidak membuat seseorang menjadi brahmana, hanya kelakuan baik yang membuat seseorang benar-benar menjadi brahmana. Sepandai apapun seseorang jika ia masih diperbudak oleh sifat buruknya maka ia tidak akan menjadi seorang brahmana.”
Suara Gaib : “Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?”
Yudhisthira : “Tiap orang pergi menghadap pada Batara Yama, namun mereka masih berusaha untuk hidup selama-lamanya, tentu ini merupakan keajaiban terbesar”
Demikianlah suara gaib itu memberikan pertanyaan-pertanyan kepada Yudhisthira. Dan Yudhisthira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan oleh suara gaib itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.
Suara Gaib : “Wahai Yudhisthira, salah seorang saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih ? Dia akan aku hidupkan kembali “.
Yudhisthira : (Berpikir sesaat, kemudian menjawab) “Aku memilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati”.
Suara Gaib : (Belum puas dengan jawaban Yudhisthira dan bertanya lagi) “Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bima yang kekuatan raganya lebih besar dari kekuatan gajah ? Lagipula, kudengar engkau sangat mengasihi Bima. Atau mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu ? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula!”
Yudhisthira : “Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarlah Nakula, putra Dewi Madri, hidup bersamaku”

Suara gaib itu puas sekali demi mendengar jawaban Yudhisthira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Ternyata, kijang dan suara gaib itu adalah penjelmaan dari Dewa Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin Yudhisthira. Batara itupun lalu menghidupkan kembali semua saudara Yudhisthira.

Lalu di hadapan Pandawa, Batara Yama berkata, “Beberapa hari lagi masa pengasingan kalian di hutan rimba akan selesai. Di tahun ke tigabelas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itupun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuhpun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini “. Setelah berkata demikian, Batara Yama pun menghilang.

HUBUNGAN YAMA DENGAN WISNU DAN SIWA
Meskipun sulit ditaklukkan dan ditakuti oleh semua makhluk, kekuatan Yama sendiri masih di bawah para Trimurti. Jikalau Yama mengincar nyawa seseorang, namun salah satu dari Trimurti hendak menyelamatkan orang itu, Yama sendiri tidak bisa mencegahnya.

Yama tercatat tiga kali terpaksa memberi status khusus kepada tiga jiwa manusia. Yang pertama adalah Markandeya. Markandeya adalah anak jenius dari Rsi Mrikandu. Ia ditakdirkan mati pada usia 16 tahun. Namun menjelang akhir hidupnya, ketika Yama mendatanginya, jerat milik Yama meleset dari leher Markandeya dan mendarat di lingga Siwa yang ada di hadapan Markandeya. Siwa langsung muncul di hadapan Yama dan menghajar Yama sampai Yama tewas (untuk kedua kalinya!). Siwa pada akhirnya membangkitkan Yama kembali namun memberi syarat bahwa Yama akan membiarkan Markandeya tetap hidup. Markandeya pada akhirnya menjadi Ciranjiwin – kaum abadi.

Kasus kedua adalah versi dari Nusantara (Bali). Ada seorang pemburu bernama Lubdhaka dan dalam kasus ini Yama sekali lagi harus melawan Siwa. Lubdhaka adalah seorang pemburu yang selalu membunuh tapi tak pernah melakukan tapa brata ataupun pemujaan pada dewa-dewa. Para Kingkara sudah mengikat jiwa Lubdhaka ke Neraka tapi kebetulan sekali pada suatu malam saat ia pergi berburu ia pergi pada malam Siwaratri. Siwaratri sendiri adalah malam di mana Siwa melakukan tapa brata. Barang siapa pada malam itu melakukan brata (mona brata: tidak berbicara, jagra: Tidak Tidur, upavasa: Tidak makan dan minum) maka mereka akan dibebaskan dari ikatan karma oleh Siwa. Dan itulah yang terjadi.

Karena terancam oleh kehadiran binatang buas, Lubdhaka terpaksa naik ke pohon dan diam di sana selama semalam. Jadi ia tanpa sengaja sudah tidak tidur, tidak bicara, dan tidak makan atau minum sepanjang malam. Daun-daun di pohon yang ia naiki juga berguguran dan sejumlah daun yang gugur itu mendarat di sebuah lingga Siwa alami (tidak dipahat manusia) yang terletak di dasar danau. Siwa berkenan atas brata yang dilakukan Lubdhaka, jadi ketika Yama bersiap menarik jiwanya ke Neraka, Siwa mencegahnya. Lubdhaka diberi kesempatan kedua untuk hidup. Ia menjadi petani dan kelak saat ia mangkat, Yama diharuskan mengantarnya ke Swargaloka, bukan Neraka.

Kasus ketiga berkaitan dengan Wisnu. Ada seorang pria bernama Ajamila. Dia adalah pencuri, penipu, pria hidung belang yang meninggalkan istri serta anaknya untuk menikahi seorang pelacur dan pada akhir hidupnya tanpa sengaja menyebut nama Narayana (yang sebenarnya adalah nama salah satu putranya). Namun karena Narayana adalah nama lain Wisnu maka Wisnu menyelamatkan jiwa Ajamila. Sama seperti Lubdhaka, Ajamila diberi kesempatan kedua. Ajamila kemudian menjadi sadhu – pertapa. Meninggalkan keduniawian dan mengabdikan hidupnya hanya untuk Wisnu.