sapta rsi

Kelahiran Yoga – Dan Sapta Rsi

Lebih dari 15.000 tahun yang lalu, Adiyogi muncul di puncak Himalaya. Tidak ada yang tahu dari mana asalNya ataupun asal usulNya. Dia datang dan pergi kedalam panggung salju menarikan tarian yang indah. Ada saat dimana Sang Adiyogi menari dengan liarnya, ada saat dimana tariannya berubah menjadi sebuah keheningan sangat…..sepi dalam diam.

Orang – orang yang menyaksikan tarianNya begitu terkesima, Orang-orang merasa bahwa Sang Penari telah mengalami sesuatu yang tidak pernah dialami oleh siapapun, tidak pernah dikenal oleh siapapun, dan tidak dipahami oleh siapapun juga. Jadi para penonton ini Berkumpul di sekelilingnya dalam naungan langit serta dinginnya salju, ingin tahu apa arti dari tarian itu. Namun hingga beberapa lama tidak ada satupun yang memiliki keberanian untuk mendekatiNya, karena Dia begitu intens dan kuat, layaknya nyala api yang menyala
dari api. Jadi mereka menunggu, berharap sesuatu akan terjadi.

Tidak ada yang terjadi.

Bahkan seolah Sang penari tidak tahu bahwa ada penonton yang memperhatikannya. Sang penari telah masuk ke dalam nuansa tarian yang aktif, intens menyatu antara gerakan dan jiwa dalam keheningan mutlak, tidak memperhatikan apa yang ada dan terjadi di sekitarnya. Jadi para penonton datang dan tetap menunggu untuk melihat , menunggu beberapa bulan, dan pada akhirnya pergi karena menganggap Sang Penari tidak pernah menyadari keberadaan orang lain.

Hanya tujuh penonton yang masih tersisa dan tetap setia menunggu Sang Penari. Ketujuh orang ini mulai berani untuk bersuara, bertanya , memohon dan mendesakNya.
Mereka harus belajar dariNya, namun Sang Penari tetap mengabaikan mereka. Mereka memohon dan
Memohon kepadaNya, “Tolong, katakanlah kepada kami, kami ingin tahu apa yang Engkau ketahui.”

Sang Penari menjawab dengan tegas kepada mereka, ” Betapa naifnya diri kalian, dirimu tidak akan mampu memahami apa yang akan Aku sampaikan walau dalam sejuta tahun. Engkau perlu mempersiapkannya. Persiapan yang luar biasa diperlukan untuk ini. Ini bukanlah hiburan. “

Setelah mendengar apa yang disampaikan Shiva, 7 orang ini tetap bertahan. Melihat ketekunan mereka, Shiva kemudian berkata, “Aku akan memberi kalian
Langkah persiapan, Lakukan ini untuk beberapa lama. Setelah itu, kita lihat saja nanti. “

Jadi mereka mulai bersiap. Hari bergulir menjadi minggu, minggu ke bulan,
Dan bulan menjadi tahun; Tetap saja, Shiva seakan mengacuhkan mereka. Kemudian, suatu hari, setelah
Delapan puluh empat tahun sadhana yang tekun dan kuat, saat matahari berjalan searah dengan Planet bergeser dari arah utara ke selatan yang diketahui dalam tradisi ini disebut saat Uttarayana bergerak ke Dakshinayana, Tiba saatnya Sang Adiyogi melihat pertama kali tujuh orang ini dan melihat bahwa mereka telah menjadi bersinar dan telah bersiap untuk menerima pengetahuanNya.

Setelah delapan puluh empat tahun yang melelahkan yang penuh ketekunan dan kedisiplinan dalam sadhana, walau ini baru masa persiapan, ketujuh orang ini telah membangun sebuah sistem dalam diri mereka dengan kekuatan dan kemampuan yang sangat menakjubkan.

Baca juga:

Ke tujuh orang ini telah benar-benar matang untuk menerima. Shiva tidak bisa mengabaikan mereka lagi. Dia mengawasi ke 7 orang ini dengan ketat selama dua puluh delapan hari ke depan, dan ketika
bulan purnama berikutnya naik, Ia memutuskan untuk menjadi seorang Guru. Pada hari bulan purnama dikenal sebagai Guru Purnami karena Adiyogi mengubah dirinya ke Adi Guru.

Guru pertama lahir pada hari itu. Ia mengambil ketujuh
murid dan mulai memberikan eksposisi yang sistematis mengenai yoga
dengan cara ilmiah. Dia mulai membahas seluruh mekanisme
hidup tujuh orang ini, tidak secara intelektual ataupun filsafat, namun sebagai sebuah pengalaman.

Shiva sebagai Adi Guru mengeksplorasi setiap sendi, setiap sel, setiap atom bahkan setiap mur dan baut dari penciptaan dengan ke tujuh muridNya. Dia melahirkan yoga sebagai teknologi , dengan yoga setiap manusia dapat berkembang dalam kemajuan.

Setelah bertahun-tahun, saat itu telah tiba yang mana ketujuh murid telah menjelma menjadi manusia yang luhur, lengkap dan sepenuhnya tercerahkan, yang hari ini kita sebut sebagai Sapta Resi, Adiyogi mengirim masing-masing dari mereka untuk bagian yang berbeda dari dunia.

  • Satu Resi pergi ke Asia tengah,
  • Satu resi pergi ke Afrika Utara dan Timur Tengah,
  • Satu Resi pergi ke Amerika Selatan, dan dari situ muncul adalah
    salah satu budaya yang menyerap dengan cara yang mendalam dan membuat sesuatu yang besar,
  • Satu resi pergi ke Asia Timur.
  • Satu Resi tetap tinggal di sana dengan Adiyogi. Dia hanya duduk, karena Sang Resi masih merasakan kehadiran Sang Adi Yogi di Himalaya.
  • Satu lagi datang ke daerah yang lebih rendah dari Himalaya dan mulai apa yang dikenal sebagai Shaivisme Kashmir.
  • Sedangkan yang satu pergi ke selatan ke Semenanjung India Beliaulah Resi Agastya Muni.

Dari tujuh Sapta Resi, Agastya Muni telah menjadi yang paling efektif dalam hal membawa spiritual sebagai suatu proses ke dalam kehidupan praktis, bukan sebagai ajaran, filsafat atau praktek,

tetapi sebagai kehidupan itu sendiri. Dedikasinya memang tak sembarangan. Dari kisah Mahabharata diceritakan juga para Pandawa dan sahabat sempat minta berkat pada Resi ini sebelum perang. Sedangkan dalam Ramayana disinggung juga Rama begitu mengikuti ajaran seorang Resi Agastya untuk memperolah kemenangan dan kemuliaan hidup.

Sedangkan di tanah Jawa sendiri, Resi Agastya dikenal sebagai sosok cedekia yang bijak. Ia menjadi contoh tindak tanduk dalam masyarakat dan memberi pengajaran tantang dharma (kebenaran).

Kekaguman terutama terletak pada seorang Resi Agastya yang berhasil membentuk pola pikir pengikutnya untuk berlaku dharma. Ajaran yang ia sampaikan bertahan hingga saat ini tercatat sejak berabad-abad lalu.
Ajaran dharma bisa terus belangsung. Tapi apakah hanya dengan kisah kepahlawan ? memang tak menutup kemungkinan. Tapi peran Resi Agastya adalah memberi bentuk lain dan memberi bukti bahwa manusia biasa sepertinya bisa memperoleh kemuliaan hidup dengan mengikuti dharma. Jadi secara tidak eksplisit Resi Agastya mengkritik bahwa dharma bukan hanya milik kaum ksatria, bukan hanya milik pahlawan atau raja-raja dan para pangerannya, tapi milik semua umat manusia.

Sumber: Bagus Teja Saputra