gajah mada

Gajah Mada – sudut pandang rakyat Bali

Dalam penerapan politik nusantara, bahwa Bali dapat dikuasai oleh Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada, pada tahun saka 1265 (= 1343 Masehi). Penerapan politik nusantara di Bali untuk pertama kalinya dapat dipahami, karena Bali adalah pulau di luar pulau Jawa yang paling dekat.

Di Bali memang terdapat bermacam-macam ceritra tentang Gajah Mada. Dari ceritra yang beredar dalam masyarakat rupanya ekspedisi militer ke Bali tahun 1343 Masehi itu dipimpin langsung oleh Gajah Mada. Konon topeng Gajah Mada sampai sekarang ini masih disimpan di Candi Blahbatuh. Topeng tersebut dianggap sebagai pusaka, tidak boleh dilihat sembarang orang. Untuk melihatnya diperlukan upacara keagamaan, itulah sebabnya topeng tersebut amat jarang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Konon topeng tersebut pernah sekali dibawa ke Jakarta dalam masa pemerintahan Presiden Suharto.

Yang menarik perhatian ialah adanya Prasasti Aria Bebed di Pangastulan dekat Singaraja, yang dikenal dengan Prasasti Gajah Mada atau Babad Gajah Mada. Prasasti ini ditulis pada tahun saka 1881 (= Mei -Juni 1959). Isinya pada hakekatnya dimaksudkan untuk menerangkan asal-usul nama Pangastulan. Nama itu dikaitkan dengan nama Aria Bebed, putra Gajah Mada, yang lahir dari Ni Luh Ayu Sekarini, anak perempuan pertapa dari Dukuh Kedangan.

Aria Bebed mencari ayahnya Hasti Mada di Majapahit. Sesampainya di Majapahit ia duduk di atas batu di muka rumah Gajah Mada. Karena disoraki oleh orang-orang Majapahit, Aria Bebed menangis. Mendengar sorak orang banyak dan tangis seorang anak, Patih Gajah Mada keluar. Setelah ditanya siapa namanya, dari mana asalnya dan apa tujuannya, si anak menjawab dengan jujur, bahwa ia berasal dari Pulau Bali, anak Ni Luh Ayu Sekarini, bermaksud mencari ayahnya di Majapahit, bernama Gajah Mada. Mendengar jawaban itu Gajah Mada segera membawa anak itu ke dalam, dipertemukan dengan Ken Bebed, istrinya. Terus terang Gajah Mada mengaku, bahwa anak itu adalah putranya sendiri. Ken Bebed yang tidak punya anak, senang melihat tingkah laku anak itu. Anak itu lalu dijadikan anak angkat Ken Bebed dan diberi nama Aria Bebed.

Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Aria Bebed minta diri akan pulang ke Pulau Bali. Gajah Mada dan Ken Bebed, memberikan berbagai hadiah sebagai bekal putranya. Yang diminta oleh Aria Bebed ialah pangastulan, tempat menyimpan abu para leluhur Patih Gajah Mada. Permintaan itu dikabulkan, dengan pesan supaya abu di pangastulan itu ditaburkan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Tempat yang ditaburi abu pangastulan itu menjadi wilayah kekuasaan Aria Bebed. Abu pangastulan itu agar ditaburkan sampai habis. Aria Bebed supaya berhenti dan menetap di tempat terakhir yang ditaburi abu pangastulan. Di situ Aria Bebed akan menjadi pengausa yang tertinggi.

Sebelum mendarat abu pangastulan itu tercecer di pinggir laut. Karenanya terjadilah Lemah Lot, yang berbentuk Pulau Kecil di pantai selatan Pulau Bali. Aria Bebed melanjutkan perjalanannya ke arah utara dan akhirnya menetap di Desa Bwahan. Di situ ia kawin dengan Ni Ayu Ranga, putri Pangeran Pasek Wanagiri. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak, yang tua laki-laki bernama Aria Twas, yang muda perempuan bernama Ni Gusti Ayu Wanagiri.

Sepeninggal Aria Bebed, Aria Twas menggantikan kedudukan ayahnya, kawin dengan Ni Luh Ayu Puspa, anak perempuan dari Pangandan. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak, yang perempuan bernama Ni Gusti Ayu Wandira, yang laki bernama Aria Rangong, menetap di Desa Bwahan. Aria Rangong ternyata lebih unggul dan lebih beruntung dari pada Anglurah Bebed. Karena itu Anglurah Bebed meninggalkan Bwahan, pergi mengembara, akhirnya menetap di desa Pangastulan. Tempat kediaman baru Anglurah Bebed itu disebut Pangastulan akibat dari abu pangastulan yang diberikan oleh Gajah Mada. Anglurah Bebed kawin dengan Ni Luh Kekeran, anak perempuan dari Bendesa Kekeran.

Pada suatu saat Desa Pangastulan kedatangan musuh bernama I Dewa Gendis. Anglurah Bebed kalah dalam pertempuran dan terpaksa meninggalkan Pangastulan, mengembra dari desa ke desa yang lain.

Adapun mengenai asal-usul Gajah Mada, tidaklah banyak orang mengetahuinya. Tetapi berkat kemampuannya mengantarkan Majapahit mencapai jaman keemasannya, maka banyaklah ada ceritra mengenai dirinya. Dalam Babad Gajah Mada ada disebutkan sebagai berikut :

Ada seorang pendeta bernama Mpu Ragarunting sedang bertapa di Lemah Tulis, di wilayah kerajaan Majapahit, bersama istrinya bernama Patni Nari Ratih. Mpu Ragarunting, mempunyai abhiseka Mpu Sura Dharma Wiyasa dan mempunyai seorang murid bernama Mpu Sura Dharma Yogi. Mpu Sura Dharma Wiyasa, mengajarkan tingkat-tingkat kependetaan kepada Mpu Sura Dharma Yogi. Setelah putus dalam ilmu, Mpu Sura Dharma Yogi, memohon dianugrahkan seorang wanita untuk menjadi istrinya. Karena beliau tidak mempunyai anak, maka istrinya diserahkan kepada muridnya.

Mpu Sura Dharma Yogi lalu membuat padukuhan di lembah gunung selatan, tidak terlalu jauh dari Lemah Tulis. Patni Nari Ratih tetap tinggal di Lemah Tulis, hanya kadang-kadang menengok suaminya ke Padukuhan. Melihat wajah Patni Nari Ratih, Sanghyang Brahma menjadi tertarik, lalu jatuh cinta kepada Nari Ratih

Pada suatu hari Nari Ratih menengok suaminya ke Padukuhan, membawa makanan dan minuman. Kendi yang berisi air tumpah semuanya. Dalam kejadian itu Sanghyang Brahma melihatnya, lalu mengikuti perjalanan Nari Ratih menuju Pedukuhan suaminya. Setelah sampai di sana, Nari Ratih menceritrakan kejadian yang dialaminya, Mpu Sura Dharma Yogi, menghibur istrinya agar tidak menyesal dan ia akan mencari air di sebelah barat gunung, namun agak jauh. Tetapi ia berpesan agar ia tetap tinggal di Padukuhan, sambil menunggu kedatangannya.

Sanghyang Brahma amat bergembira melihat kesempatan itu. Ia berganti rupa seperti Mpu Sura Dharma Yogi (disebut Mpu Sura Dharma Maya Rupa), dengan membawa kendi pergi ke Padukuhan. Saat itu sedang sepi, maka Sanghyang Brahma merayu Patni Nari Ratih, untuk diajak bersanggama. Nari Ratih berkata, “Baiklah suamiku sayang ! Mana air yang kau cari ?”. Ternyata Hyang Brahma membawa kendi yang kosong. Tahulah Nari Ratih itu bukanlah suaminya. Oleh karena itu ajakan untuk bersanggama ditolaknya. Hyang Brahma dituduh sebagai Mpu Sura Dharma Maya Rupa, berwatak munafik, di luar nampaknya sebagai pendeta, namun sebenarnya penjahat tingkat utama, pengrusak susila. Rayuan dan bujukan Hyang Brahma tidak mempan. Oleh karena tidak dapat menahan hawa nafsu, Hyang Brahma merukat Nari Ratih dan memperkosanya, sehingga terlaksanalah keinginannya. Setelah itu berubahlah rupanya seperti Dewa Brahma, lalu menghilang.

Tersebutlah Mpu Sura Dharma Yogi, datang dari mencari air, setelah sampai di Padukuhan, disambut dengan isak tangis oleh istrinya. Dengan telah disampaikan peristiwa itu dari awal sampai akhir, Mpu Sura Dharma Yogi, memakluminya dan mereka bertekad untuk meninggalkan Padukuhan dan terus masuk hutan.

Dalam perjalanan yang berbulan-bulan, memasuki hutan dan ketika itu Nari Ratih sedang hamil tua dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Pada suatu ketika terlihatlah ada desa di sebelah barat gunung Sumeru, tempat itu ditujunya, desa tersebut bernama Desa Mada. Dewi Nari Ratih istirahat di balai desa Mada, di tempat itulah lahir seorang bayi laki-laki, yang nantinya dikenal dengan nama Mada, sesuai dengan tempat lahirnya anak itu.

Mpu Dharma Yogi bersama istrinya meninggalkan bayi itu dan bertapa di atas sebuah batu besar, dengan memohon kehadapan Hyang Paramesti Guru, agar bayinya selamat dan nantinya dapat menjadi penguasa.

Pada suatu ketika Patih Amengkubhumi Majapahit, berkunjung ke Desa Mada, tertarik dengan anak itu dan dipungutnya oleh Kiyayi Patih dibawa ke Majapahit. Berkat ketrampilan dan bakatnya setelah dewasa Mada dikawinkan dengan putri Ki Patih bernama Ken Bebed, kemudian menggantikan Ki Patih menjadi Patih Amengkubhumi di Majapahit. Atas usaha dan kemampuan Patih Mada, segenap raja di sekitar pulau Jawa tunduk kepada raja Majapahit. Nama Patih Mada menjadi masyhur di seluruh Nusantara.

Demikianlah sekilas ceritra Gajah Mada yang tersurat dalam Babad Gajah Mada.

Sumber: Panbelog.wordpress.com