wayang kulit

Wayang Kulit – Hiburan yang sarat makna

Wayang Cenk Blonk, Wayang Joblar, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama tersebut, Wayang kulit memang dari dahulu menjadi hiburan masyarak di Bali

Wayang Kulit merupakan pementasan kesenian yang sarak makna dan pembelajaran, sang Dalang dengan apik memainkan tokoh yang menarik kepiawaian merubah suara sesuai tokoh yang dimainkan adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki seorang Dalang

Umumnya pembawaan cerita wayang mengambil kisah Agama Hindu seperti Ramayana, Mahabratha dan kisah lainya, dengan sentilan polemik yang sedang terjadi dan juga sindiran politik menjadikan Wayang Kulit kian menarik

Tujuan Dalang memberikan cerita secara keseruhan tentang kebaikan tentang keburukan sehingga para penonton dapat memetik pelajaran dari cerita yang disampaikan

Sekilas sejarah Wayang

Wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber inspirasi dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang. di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah ‘hyang’/leluhur

Di tahun (898 – 910) Masehi wayang sudah menjadi wayang purwa namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung:

baca juga:

di jaman mataram hindu ini, ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 – 1042 Masehi mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa raja erlangga

masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat ‘naik’-nya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’

abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 – 1550 M )

Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, akhirnya para seniman kerajaan dan seniman masyarakat migrasi ke pulau Bali yang saat itu diBali kerajaannya berpusat di Swecapura Gelgel Klungkung. Daerah di sekitar lingkungan kerajaan Gelgel, seperti di desa Kamasan, merupakan desa perkampungan para seniman Bali saat itu. Oleh karena itu Klungkung di saat Bali masih di pimpin dari Gelgel Klungkung merupakan pusatnya kebudayaan dan seniman bali, dan desa Kamasan hingga kini masih melestarikan tradisi turun temurun dari leluhurnya melukis wayang. Namun seiring dengan runtuhnya kerajaan Gelgel Klungkung, dan kerajaan – kerajaan yang ada di Bali mulai berdiri sendiri, keberadaan para seniman Bali termasuk seniman Wayang mulai menyebar ke berbagai kabupaten yang ada di Bali.

 

Wayang Sapu Leger

Selain sebagai pementasan seni Wyang Kulit di Bali sebagai ritual yang diesebut Sapuh Leger. Istilah sapuh leger berasal dari kata dasar “sapuh” dan “leger”. Dalam kamus Bali-Indonesia, terdapat kata sapuh yang artinya membersihkan, dan kata leger sinonim dengan kata leget (bahasa jawa) yang artinya tercemar atau kotor. Sehingga secara  Sapuh Leger diartikan pembersihan atau penyucian dari keadaan tercemar atau kotor. Secara keseluruhan, wayang sapuh leger adalah suatu drama ritual dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah. Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.